Archive for the 'My 1st Fanfic : Forever Love' Category

25
Dec
09

Forever Love (chap 5) *FINAL*

Title : Forever Love (chap 5)
Author : Chafani
Rating : PG +13
Genre : Romance
Main Casts : Byul, Song Seunghyun (FT island)
Other Cast : Kim Shin Ae, Kim Ki Bum, Han Se Jin
Theme Song : Yu-mi – Byul (ost 200 pounds beauty), Howl – Between Of One year,

Pagi yang cerah bagi sebagian banyak orang tidak menghalangi pikiranku untuk berpikir bahwa pagi ini lebih kelabu dari hari kemarin, aku menatap ke arah luar jendela dengan pandangan penuh kehampaan, jemariku bergetar dengan kuatnya di atas pahaku, kelopak mataku melebar sekuat mungkin agar tidak membiarkan sebuah lelehan hangat jatuh dan mengalir halus di pipiku. Ku gigit sedikitnya bibir bawahku yang kering, rambutku berantakan seperti baru saja di amuk badai yang hebat. Aku tidak mampu membayangkan bagaimana laki-laki itu memasukan salah satu jemari gadis itu ke dalam lubang cincin yang ia beli. Aku menggerakkan kepalaku perlahan, pandanganku kualihkan ke arah sebuah boneka yang sekarang terbaring nyaman di atas kasur yang sedang kududuki. Tangan kananku dengan lembut meraih benda lucu itu dan menatapnya. Aku hanya dapat mengukir sebuah senyuman yang hangat.

Beberapa hari yang lalu, Seunghyun akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan. Seorang Se Jin, dengan sebuah cincin yang melekat manis di jarinya. Ya, Se Jin menerima lamaran Seunghyun. Ketika pulang, laki-laki itu berteriak bahagia dan memelukku, lalu menyatakan bahwa akhirnya dia akan menikah dengan Han Se Jin. Aku menyambutnya hanya dengan mengembangkan sudut-sudut bibirku. Berbeda dengan Shin Ae dan suaminya yang datang esok hari, dia menyambut kebahagiaan itu dengan membawakan banyak hadiah dan makanan. Dia mengundang Han Se Jin juga untuk merayakannya di rumah Seunghyun. Aku ikut, tapi aku tidak begitu menikmatinya, aku kehilangan nafsu makanku.

————————————————-

Aku memantapkan langkahku untuk keluar dari ruangan ini, ruangan yang pengap, tempat aku menghabiskan waktuku untuk menggeliat dan terisak-isak. Aku menyambar jaket yang tergantung di balik pintu dan keluar dengan langkah setengah berlari menuruni anak tangga. Ketika sudah mencapai pangkalnya, aku melambatkan langkahku. Aku menatap ke sekeliling ruangan di hadapanku, bersih, hening, dan nyaman seperti biasanya. Aku menggerakan kaki ku lagi menuju sebuah pintu. Pintu itu kubuka dan kulihat betapa banyaknya orang berkerumun di dalamnya. Seorang perempuan dengan rambut diikat tampak sedang sibuk melayani pembeli.

“Sudah baikan?” tanyanya ketika melihatku. Aku mengangguk pelan tanpa memandangnya. “Kalau begitu tunggulah di sana, kurasa kau masih merasa tidak enak badan,” kata perempuan itu sambil menunjuk sebuah kursi di dekat pintu. Bukan itu tujuanku sebenarnya, aku hanya keluar untuk pergi ke sebuah tempat, tapi anehnya badanku dengan patuh mengantarkanku ke kursi itu dan duduk tenang.

Akhirnya serangkaian kesibukan Shin Ae selesai, toko mulai sepi pengunjung, sedangkan wajahku masih belum kembali cerah. Shin Ae menarik sebuah kursi ke dekatku, dia mengambil sebuah majalah yang tadinya terletak di atas meja kasir. Dia duduk sambil menyilangkan kakinya dan menghela nafas lega karena pekerjaannya sudah selesai. Namun baru beberapa detik ia membuka-buka majalahnya, dia menutupnya kembali dan menaruhnya di atas meja karena bosan.

“Ahhhh…, akhirnya pekerjaanku selesai juga,” ujarnya sambil memukul-mukul pundaknya dengan kepalan tangannya. “Byul ah? apa kau tidak apa-apa? kenapa kau menatapku begitu?” tanyanya sambil melambai-lambaikan tangannya di hadapanku.
“Hah?” aku terkejut ketika mendengar pertanyaannya. “Ah..ani..aniyooo~, aku tidak apa-apa,”
“Tapi kenapa kau seperti sedang memikirkan sesuatu sejak pagi tadi? lihat tuh…wajahmu pucat? kau sakit? ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya lagi, kali ini dengan raut wajah khawatir. Aku menggeleng. “Hmmmhh…., baiklah, aku tidak akan bertanya lagi, kalau nanti kamu merasa tidak enak lagi, bilang saja padaku,”
“Ne, gamsahamnida,” kataku sambil menundukkan sedikit kepalaku.
“Akhir-akhir ini, oppa selalu pergi bersama dengan Se Jin onnie lebih sering, padahal dulu ketika aku dan Ki Bum mau menyiapkan pernikahan, kami tidak sesibuk ini, cih… oppa terlalu berlebihan, ahh… atau mungkin memang dianya saja yang ingin menghabiskan banyak waktu dengan Se Jin, iya kan Byul ah?”
“Ne,” jawabku singkat. Shin Ae tertawa kecil sambil sesekali menerawang. Tiba-tiba saja pintu art shop terbuka, Seunghyun dan Se Jin datang sambil membawa banyak sekali bungkusan.

“Waaaaa, oppa! apa yang kau bawa itu hah?”
“Hahahaha, banyak! nanti kita akan buka di dalam,” Seunghyun langsung membuka pintu tengah dan masuk bersama Se Jin, sedangkan Shin Ae mengekori mereka karena penasaran.

“Omooooo!!! ya! oppa! banyak sekali yang kau beli, memangnya semua makanan ini akan habis?”
“Haishhh~ ya tentu saja, kan ada kau yang bisa menghabiskan semuanya, hahahaha” ledek Seunghyun pada Shin Ae.
“Enak saja kau oppa, aku tidak serakus itu ya!”
“Hahahahaha, sudahh…sudah, makanan ini untuk kita makan nanti malam, kita akan mengadakan pesta, kau mau ikut kan?” rayu Se Jin pada Shin Ae.
“Tentu saja onnie, nanti aku akan menghubungi Ki Bum dan menyuruhnya kemari, hahahaha……, Ah! kalau yang satu ini apa?” Sebuah kotak yang berukuran sekitar 40 X 20 cm berwarna baby blue menarik perhatiannya.
“Ohh~ itu, em… ya! Byul ah! kemari…,” panggil Seunghyun.
“Ne?”
“Sini..sini, ada sesuatu untukmu,” katanya sambil tersenyum penuh arti. Aku berjalan ke arahnya, dan Seunghyun mengambil kotak yang tadi di lihat Shin Ae kemudian menyerahkannya padaku.
“Ini, bukalah,” Aku langsung menerima kotak itu lalu membukanya. Sebuah gaun dengan corak warna yang sama dengan kotaknya terlipat rapi di dalam.
“Bagaimana? bagus kan?” tanya Seunghyun.
“Tadi kami membelinya untukmu, aku pikir kau akan tampak cantik ketika mengenakannya di acara pernikahan kami besok,”
“Bagus…bagus sekali, aku menyukainya,” jawabku dengan nada sedikit tercekat.
“Nah, benarkan apa yang kubilang? dia akan menyukainya, tidak semua perempuan pasti tahu dengan gaun yang di sukai oleh perempuan lain,”
“Ne…ne, aku tahu kau sudah lama tinggal dengannya dan mengerti soal kesukaannya, jangan meledekku seperti itu ah!”
“Haha…bercanda…” Kata Seunghyun sambil mengelus-elus kepala Se Jin.
“Aihhhhhh~ aku tahu kalian akan menikah besok, jangan membuatku iri seperti itu donk,”
“Iri? kau iri? bukankah kau lebih sering melakukannya dengan suamimu hah?? hahahaha…”
“Wahh…jadi seharusnya yang iri adalah kami berdua, kkk” timpal Se Jin.
“Ya! oppa! jangan membuatku malu ah,”

————————————————-

Malam ini pesta yang diadakan Seunghyun dan Se Jin berlangsung meriah. Kesedihan dan kepahitanku sedikit tertutupi ketika Kim Ki Bum, suami Shin Ae datang dan menghambur, lalu membuat lelucon-lelucon yang membuat kami tertawa. Aku berusaha menikmatinya sambil terus melihat kelucuan pasangan Shin Ae dan Kim Ki Bum. Mereka sangat mesra, serasi, dan….menghibur. Hahaha…mungkin akan menyenangkan kalau yang ada di posisi itu adalah aku dan Seunghyun. Haha…sungguh sebuah hal yang tidak mungkin terjadi. Memalukan kalau aku memikirkannya, sedangkan di belakangku…, Seunghyun dan Se Jin tampak menikmati suasana berdua. Aku menoleh ke belakang dan yang tampak hanyalah sebuah kegelapan. Ini adalah hari terakhirku di sini, aku harus benar-benar menikmatinya! aku harus menghilangkan perasaan sedihku, aku harus berusaha terlihat ceria di depan mereka semua, Karena ini adalah…. benar-benar hari terakhirku.

————————————————-

Aku sudah mengenakan gaun yang kemarin Seunghyun berikan padaku, aku juga sudah menyiapkan sebuah kado untuk pernikahannya. Aku berjalan keluar kamar dan menemui Shin Ae juga Ki Bum yang sudah menungguku dari tadi. Seunghyun sudah duluan pergi ke tempat acara di adakan, dan sekarang aku juga akan pergi ke sana menghadiri pernikahannya dengan menumpang mobil Ki Bum.

“Omoonaaa~ Byul ah, kau cantik sekali,”
“Haha, gomawoo~,” kataku sambil terus menuruni tangga. Kemudian mereka berdua menggiringku ke tempat mobil mereka di parkir. Hari ini art shop ini di tutup untuk sementara, karena pemiliknya akan mengadakan pernikahan.

Selama perjalanan, aku hanya tersenyum ketika melihat kado yang ku genggam, aku sudah menyiapkannya sejak lama untuk kado pernikahannya, aku berharap kado ini akan menjadi kado yang paling indah dan berkesan untuknya. Aku merengkuh benda itu kemudian mendekapnya.

————————————————-

Kami sudah sampai di tempat pernikahan Seunghyun dan Se Jin di adakan. Tempatnya terbuka dan di adakan di sebuah taman yang sudah di dekorasi secantik mungkin untuk menyambut pernikahan mereka. Beberapa tanaman di bentuk dan di ukir seunik mungkin, sedangkan karena tema pernikahan ini adalah putih, semua dekorasi peralatannya juga ikut berwarna putih. Sebagian tamu dengan gaun-gaun dan tuxedo mewah mereka sudah datang dan membuat acara yang belum di mulai ini cukup ramai. Beberapa di antaranya adalah teman Seunghyun yang pernah datang ke rumahnya dan berkenalan denganku, tapi karena aku lebih sering mengurung diriku di kamar saat mereka datang, jadinya aku tidak begitu akrab dengan mereka. Shin Ae yang bertemu dengan teman dekatnya langsung berpelukan hangat, mereka semua tampak bahagia hari ini. Aku mendatangi Seunghyun yang sedang berdiri sendirian di dekat pintu masuk.

“Annyeong,” sapaku.
“Ah… annyeong Byul ah,” jawabnya sambil menyunggingkan senyuman.
“Apa kau gugup?”
“Ya… begitulah,” jawabnya sambil menggaruk-garukkan kepala.
“Haha…, emm… ngomong-ngomong, ini…., aku punya sesuatu untukmu,” aku memberikan sebuah kotak berukuran sedang yang sudah di bungkus kertas kado kepadanya.
“Apa ini?”
“Rahasia, kau harus membukanya setelah acaramu selesai, arasso?”
“Hmmhh~ baiklah, gomawoyo..,” Seunghyun langsung mengacak-ngacak bagian atas rambutku sambil tertawa kecil. Aku akan mengingat hal ini.
“Baiklah, sudah dulu ya, aku mau pergi ke tempat Shin Ae,”
“Ne,” jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.

Aku berhasil menipunya, tidak mungkin sekarang ini aku dengan nyamannya melenggang ke tempat Shin Ae, aku akan pergi ke suatu tempat yang lebih jauh. Hadiah yang baru saja kuberikan adalah hadiah dan juga kenangan terakhirku padanya. sebuah surat yang ku tulis khusus untuknya, sebuah pelampiasan perasaanku yang terpendam, kugulung dan kumasukkan dalam sebuah mulut gelas tembikar yang di penuhi oleh ukiran-ukiran pemberian Seunghyun padaku karena aku sangat menyui karyanya.

Aku sekarang sudah berada tepat di luar area acara pernikahan yang sebentar lagi akan berlangsung itu. Aku menatap tempat itu lekat-lekat sebelum meninggalkannya, berusaha merekam adegan demi adegan dalam otakku. Lalu aku bergerak menjauhi tempat itu, melesat menuju sebuah tempat yang akan mengakhiri segalanya.. mengakhiri perjalanan pendekku di bumi ini.

————————————————-

Aku berdiri di pinggir tebing yang sangat curam. Perlahan aku menurunkan tubuhku untuk duduk. Aku melingkarkan kedua tanganku di kaki-kaki ku sambil memejamkan mata, menikmati suara deburan ombak yang menampar hamparan karang-karang di dasar tebing, menikmati hempasan-hempasan air yang di timbulkannya, menikmati angin yang berhembus menerpa wajahku.

Dengan lambat aku membuka kelopak mataku, kupandang bentangan laut yang luas dan kebiruan, sebuah kedamaian datang memelukku. Aku berdiri lagi, melepaskan sepasang sepatu hak yang membatasi ruang gerak kakiku. Rasa gentar sedikit menyelimuti pikiranku, namun aku sudah menguatkan hatiku untuk melakukan semua ini. Aku yakin ini adalah yang terbaik bagi diriku, dengan begitu aku tidak akan ada lagi di dunia ini, aku tidak akan tinggal di dalam tubuh ini lagi, aku tidak akan tinggal di dalam tubuh boneka itu, aku tidak akan pernah lagi merasakan sesuatu bernama cinta, aku tidak akan merasakan kepedihan sebagai efek yang ditimbulkannya, dan dengan begini juga aku tidak akan lagi mengenal seorang Song Seunghyun.

“Gamsahamnida….. Seunghyun ah……,” kata-kata terakhir itu terucap di bibirku. Dengan sebuah gerakan pelan, aku menjatuhkan diriku dari ke dalam rongga luas lautan.

————————————————

Annyeong Seunghyun ah~
Apa kabar? akhir-akhir ini kita sudah jarang mengobrol, apalagi sejak Han Se Jin hadir dalam kehidupanmu.
Aku senang melihat kalian berdua,
serasi sekali…
sampai-sampai kalian membuatku iri…

Di hari bahagiamu ini ada satu hal yang ingin kuakui padamu…..
Aku tidak pernah tahu sebelumnya, apakah kau menyadarinya apa tidak, tapi aku berpikir mungkin kau tidak pernah menyadarinya……

Seunghyun ah~,
Aku ingat ketika pertama kali kita bertemu, saat itu kau menemukanku tertidur di depan tokomu. Saat itu kondisiku berantakan, dan kau menolongku, membawaku masuk, dan membiarkanku untuk tinggal di sana. Dalam masa-masa itu, kau banyak sekali membantuku, kau banyak mengajariku berbagai hal yang tidak pernah kuketahui sebelumnya, aku sangat berterima kasih atas hal itu…,
aku menikmati saat-saat kita berdua dulu….,
saat itu kita benar-benar seperti layaknya sepasang kekasih yang tinggal bersama….

Aku menyukaimu Seunghyun ah~

selama ini…., apa kau benar-benar tidak pernah merasakan perasaanku itu?
yahh…., aku tahu….
mungkin saat itu kau lebih memikirkan Han Se Jin dan menunggunya kembali dari pada memikirkan diriku, mungkin karena itulah kau tidak pernah peka terhadap perasaanku.

Mungkin suatu kesalahan besar aku mengungkapkannya sekarang, aku terlambat mengatakannya, aku terlalu pengecut untuk memberitahukannya padamu saat itu, hingga akhirnya aku hanya mendapatkan kepahitan. Aku memendam perasaan ini, namun tidak ada satupun kekuatan dalam diriku yang mampu menunjukkannya banyak kepadamu, aku minta maaf atas semua pengakuanku ini, aku berharap kau tidak merasa terganggu…,
aku berharap kau dapat menyimpannya sebaik mungkin dalam hatimu…

Aku sangat berterima kasih atas segala yang pernah kau berikan padaku, aku tidak mungkin melupakannya, tapi itu terlalu berat untuk aku ingat, bukankah lebih baik aku menghilangkannya? iya kan?

Mungkin setelah ini kau tidak akan pernah melihatku lagi, aku akan pergi jauh…..
meninggalkan semuanya…..

Sekali lagi gamsahamnida…..

Saranghaeyo… Seunghyun ah~…

Laki-laki itu meremas surat tersebut. Dengan penuh kekuatan, ia menghempaskannya ke tanah yang ia pijak. Sebuah acara pernikahan yang sudah ia rencanakan sebaik mungkin ia tinggalkan begitu saja. Wajahnya sudah merah karena perpaduan marah, rasa kecewa, dan sedih yang menyelubungi dirinya, pipinya yang dibasahi oleh lelehan air mata ia usap beberapa kali. Semua tamu yang ada di undangan terkejut dengan apa yang dilakukan lelaki itu, terutama seorang gadis yang sebentar lagi akan dinyatakan sebagai istrinya. Dengan sekali hentakan, ia melepas jasnya dan membuangnya, kemudian pergi mencari jejak gadis yang memberikannya kado sebuah surat yang baru saja ia baca.

————————————————-

“Appa….., kenapa nama tokonya di ganti menjadi Byul? bukankah yang dulu lebih bagus?”
“Hahahahaha, menurut appa, nama Byul lebih bagus,”
“Ahhhhh…tapi kenapa harus Byul… nama itu kan….,” anak itu melirik ke arah ibunya. “Itu kan nama eomma…..,”
“Memang ada masalah kalau appa mengganti nama tokonya dengan nama ibumu? appa suka dengan nama itu,” kata pria itu sambil menggendong laki-laki kecilnya.
“Ya! kenapa menyebut-nyebut namaku hah?” seru wanita yang tiba-tiba muncul.
“Waaaa…. eomma mengamuk!” jerit anak itu sambil bersembunyi di belakang appanya.
“Aigooo…. anak ini, hei Song Yoo Gun! sini, eommamu ini akan memberikan pelajaran padamu,”
“Uwaaa~ appa, eomma serammm…”
“Hahahahaha, kalian ini, sudahhlah….,”
“Jagiyaa…lihat itu, pendekar kecilmu itu nakal sekali,”
“Hahahaha, tapi lucu kan?” Pria itu langsung menarik istrinya  ke dalam pelukannya, sedangkan wanita itu hanya mengembungkan pipinya.
“Seunghyun ah…,”
“Ne?”
“Saranghae…,” wanita itu memberikan senyum hangat pada suaminya. Pria itu tersipu ketika melihatnya, dan tanpa di duga dia mengecup bibir istrinya dengan lembut, sedangkan anak kecil di belakangnya hanya mampu menutup matanya dengan kedua tangannya sambil mengintip sedikit dari sela-sela jarinya.

————————————————-

The End

Huwaaaaaaaaa~ akhirnya FF satu ini tamat juga!
Penuh perjuangan waktu ngelanjutinnya karena otak blank sama sekali, sedangkan semangat udah menggebu-gebu buat ngelanjutin. Gw bikin ni FF sampe part ini aja karena gak mampu bikin part banyak-banyak, hehe ^^

Mian sebanyak-banyaknya buat reader karena banyaknya kekurangan di dalam FF ini, maklum sih~ masih pemula, tapi semoga kalian cukup puas dengan endingnya. Untuk bagian Byul kenapa bisa ada lagi? itu gw biarkan aja kalian mengembangkan imajinasi kalian sendiri, khukhukhu *d kemplang reader.

Trus juga makasih sebanyak-banyaknya buat kalian yang udah ngikutin FF ini sampai akhir, bener-bener sebuah penghargaan buat gw karena kalian bertahan buat ngebaca ni FF budug ampe akhir *lebay kumat*

Sekali lagi gomawooo… gamsahamnidaaa ^^

Seperti biasaaa, komennn yoo XDD

25
Dec
09

Forever Love (chap 4)

Title : Forever Love (chap 4)
Author : Chafani
Rating : PG +13
Genre : Romance
Main Casts : Byul, Song Seunghyun (FT island)
Other Cast : Kim Shin Ae, Kim Ki Bum, Han Se Jin
Theme Song : Intro Eve No Sora, Ima Ai Ni Ikimasu by Kimbum, Younha – Miweohada, For Catharina, Broke up today, BEG It’ll do well, Tiffany ft K Will – A Girl Meets Love, Sunny ft Taeyeon – It’s Love.

Aku mulai ragu dengan hidupku, aku mulai tidak yakin dengan apa yang kujalani sekarang. Aku mulai goyah dan tidak percaya bisa melanjutkan perjalanan hidupku sebagai manusia bersama lelaki yang kukasihi selama ini. Aku memang tidak ditakdirkan seperti ini, aku memang seharusnya hanya menjadi sebuah boneka, aku memang seharusnya menjalani hidupku sebagai sebuah boneka. Jiwaku, perasaanku, semuanya, tidak sepantasnya berada di sini. Aku harus kembali, aku harus kembali, kembali di mana saat itu aku hanyalah sesuatu yang diam, yang tidak bergeming, yang hanya tersenyum, yang hanya duduk, yang hanya menatap ke depan, yang tidak bisa melakukan apapun kecuali berbicara kepada diriku sendiri. Bagaimana caranya? aku ingin kembali, aku tidak betah hidup seperti ini, ini bukan jalanku, ini bukan takdirku, ini bukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kumohon……… aku ingin kembali……
————————————————-

Pantai ini, sebuah pantai yang terletak di daerah yang berdekatan dengan tempat Seunghyun tinggal, merupakan tempat yang paling nyaman yang pernah kutemui. Suasananya sepi, bersih, sejuk, dan pemandangannya indah. Aku menikmati detik demi detikku untuk menenangkan diri. Pasir yang empuk membuatku semakin mengantuk dan ingin tertidur. Angin sepoi-sepoi yang sedari tadi menerpa wajahku membuat pipiku menjadi dingin. Aku terduduk sambil melipat tanganku di atas lutut, kemudian memejamkan mataku sambil menikmati hembusan angin dan deru ombak yang menghempaskan dirinya di pasir. Sesekali terdengar suara burung-burung camar yang memekik di udara. Aku ingat ketika pertama kali Seunghyun mengajakku kemari, ia bilang ketika kau sedang diterpa masalah, ketika kau sedang merasa hampa, ketika kau sedang merasa buruk, kau hanya perlu datang kemari, duduk, diam, memejamkan mata, dan kau akan menemukan sebuah ketenangan. Dia benar, apa yang sekarang kutemukan adalah sebuah kedamaian, ketentraman, kenikmatan, dan kenyamanan. Namun aku masih belum bisa melupakan soal kejadian tadi malam, begitu terlukanya perasaanku saat ini hingga rasanya seberapapun aku berusaha memulihkannya, luka ini tidak akan sembuh. Aku menyentuh dadaku yang terasa sesak. Baru pertama kali aku merasakan hal seperti ini, aku masih tidak bisa melepaskan ingatanku dari peristiwa semalam. Peristiwa itu terus menghantuiku, terus menakuti, terus membebani pikiranku dan membuatku tidak bersemangat dalam melakukan apapun. Tidak ada yang dapat benar-benar menghiburku dan menghapuskan semua yang aku rasakan saat ini. Aku salah! aku benar-benar salah! kenapa aku harus berdoa, kenapa aku harus meminta semua hal ini terjadi padaku. Aku tidak tahu bahwa aku tidak akan sanggup menanggungnya, tapi semuanya sudah terlanjur terjadi, sekarang aku harus menghadapinya sendirian tanpa siapapun yang bisa membantuku. Rasa sakit ini, apakah aku harus menahannya hingga saat yang tidak aku ketahui?? Hidup manusia itu, seberat inikah??
————————————————-

“Byul ah…, Byul ahh….ireona!”
“Ng?” aku membuka sedikit kelopak mataku, samar-samar kulihat seseorang duduk di depanku sambil mengguncang-guncang bahuku.
“Hufh…., aku kira kau kemana, ternyata kau tertidur di sini,” aku segera terbangun dari posisi tidurku. Betapa terkejutnya aku, tanpa sadar aku tertidur di pantai ini selama sekitar dua jam sejak pagi tadi. Aku terlalu menikmati suasananya hingga aku tidak sadar bahwa aku masih punya tugas.

Aku melihat Seunghyun masih mengatur nafasnya sambil menundukkan wajahnya ke bawah. Wajahnya di penuhi peluh , kemeja yang semalam dia pakai ke acara reuni masih ia kenakan dengan lengan tergulung sampai sikunya, hanya saja sekarang lebih berantakan dan basah karena keringatnya. Sekarang matanya yang sayu menatapku dengan raut kelelahan. Dari yang kulihat, sepertinya ia baru saja mencariku ke berbagai tempat, dan akhirnya menemukanku di sini.

“Byul ah, tadi pagi aku kaget ketika kau tidak ada di manapun, kau pergi tanpa meninggalkan pesan. Aku mencarimu ke berbagai tempat tetapi kau tidak ada juga. Ahhh~ tadi aku takut sekali, ternyata saat akhirnya aku lelah mencarimu dan pergi kemari, aku malah menemukanmu tidur di sini,” Seunghyun mengelus kepalaku, aku hanya tersenyum tipis menatapnya. Entah kenapa, sekarang rasanya terasa berat untuk menatap wajahnya dan tersenyum padanya. Tiba-tiba aku menangkap wajahnya menyiratkan rasa heran ketika melihat wajahku, aku menjadi salah tingkah. “Byul ah, apa kau habis menangis? kenapa matamu bengkak?” Aku terkejut dan meraba-raba wajahku, aku berusaha mengelak, namun dia terus mendesakku untuk mengakui apa yang membuatku menangis. Aku tidak bisa menjawab apa-apa dan hanya menunduk sambil berusaha membendung air mataku yang mulai keluar lagi. Tiba-tiba saja tanpa kusangka Seunghyun mendekapku, seketika itu pula aku melepaskan tangisanku untuk kesekian kalinya, sakitnya perasaanku memang dapat kusembunyikan, namun ekspresi atas rasa sakitku tidak dapat kututupi. Aku terisak-isak di dalam dekapannya, wajahku memanas, aku hanya bisa menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku tidak tahu kekuatan apa yang dia gunakan sampai akhirnya ia dapat membuatku lebih baik. Air mataku mulai berhenti mengalir, dan perlahan ia mulai melepaskan dekapannya kemudian menatapku. Aku merasa malu dengan diriku sendiri, kenapa aku harus menangis di depannya, kenapa aku tidak bisa menahannya sedikit lagi sampai akhirnya aku bisa memisahkan diri dengannya dan menangis sendirian. Babo!

“Byul ah,” panggil Seunghyun sambil memegang kedua bahuku. “Mianhe kalau aku punya salah terhadapmu,” aku menggeleng dan berusaha menjawab “ini bukan salahmu” tapi tidak terucap satu katapun. “Memangnya apa sih yang membuatmu begini?” sekali lagi aku menggeleng, tampaknya Seunghyun sudah menyerah dengan pertanyaannya. Dia berdiri di hadapanku dan mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. “Ayo! berdirilah, kita harus cepat pulang, sebentar lagi aku harus membuka art shopku, kita sudah terlambat satu jam,” ujar Seunghyun sambil melihat jam tangannya. Aku berdiri menuruti perintahnya lalu menyapu pasir-pasir yang menempel di bagian belakang bajuku.

Kami mulai berjalan menjauhi pantai, matahari mulai beranjak berusaha menggapai puncak langit. Kulihat jalanan semakin ramai, dipenuhi oleh orang-orang yang memulai kegiatan yang sehari-hari mereka kerjakan. Penampilan kami berdua yang cukup berantakan menarik perhatian beberapa orang, namun aku tidak peduli, begitu juga dengan Seunghyun. Seunghyun terlihat menguap beberapa kali, wajahnya juga terlihat sangat lelah, aku menduga, apakah dia tidak tidur semalaman? Kulirik tangannya yang kosong, berikutnya tanganku. Ada keinginan untuk menggenggamnya, namun niat itu kuurungkan karena lagi-lagi aku merasa tidak memiliki keberanian. Pengecut! pada akhirnya, apa yang kuinginkan selama ini hanya sebatas mimpi, keberanian saja aku tidak punya. Karena tidak dapat melakukan apapun, aku hanya berjalan sambil menatap bangunan-bangunan yang kulalui. Beberapa saat kemudian, kami melihat art shop sudah tidak jauh lagi, kami hanya tinggal melangkah beberapa meter lagi untuk sampai ke sana.

Seunghyun membuka art shopnya kemudian menguap dengan keras. Dia buru-buru pergi ke lantai atas untuk mengambil pakaiannya, dan pergi mandi. Aku duduk di sofa, perasaanku memang jauh lebih baik dari tadi, namun masih ada sedikit perasaan tidak enak yang menyergapku.

“Ya!” panggil Seunghyun tiba-tiba yang membuatku terkesiap. “Cepat mandi, aku menunggumu di depan,” aku hanya mengangguk lemah.
————————————————-

“Ini, kubawakan kau coklat hangat,” Seunghyun menyerahkan secangkir coklat di hadapanku, dia mengambil posisi duduk di sampingku. Aku hanya mengaduk coklatku dengan malas. Seunghyun mangambil remote tv dan mengganti chanelnya beberapa kali namun dia tidak menemukan satupun yang dapat menghiburnya hingga akhirnya ia mematikan tv. Malam ini sangat dingin, aku menyelimuti diriku dengan selimut tebal yang ku ambil dari kamarnya. Aku duduk sambil menikmati coklat hangat buatannya, sesekali aku memejamkan mata untuk menikmati aromanya.

“Em…., aku…ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu,” aku menoleh padanya sambil menunggu apa yang akan dikatakannya.
“Kau tahu kan kemarin aku pergi ke acara reuni?” aku mengangguk, tentu saja aku tahu. Kenapa harus ditanyakan sekali lagi?
“Aku bertemu dengan seorang teman…, dia itu dulu adalah orang yang sangat kusayangi. Kemarin kami bertemu setelah sekian lama kami tidak berjumpa. Aku sangat rindu padanya…, aku menanyakan kabarnya, dia bilang dia baik-baik saja, tapi semuanya tergambar di wajahnya, bahwa dia tidak baik. Aku menanyakannya sekali lagi, apakah itu benar? akhirnya dia mengakui, dia tidak baik, dia sudah lama menantikan saat-saat ini untuk bertemu denganku, dia sangat rindu padaku, begitu juga aku.” Seunghyun menundukkan kepalanya. “Dia…, dulu adalah mantan pacarku, tapi setelah lulus SMA, kami berpisah, ia melanjutkan sekolahnya ke luar negeri. Selama itu, aku masih menantinya bahkan sampai sekarang. Tidak menyangka kami akan bertemu lagi. Kau tahu Byul ah?”
“Ng..?” responku terhadap pertanyaannya.
“Setelah kami mengobrol banyak malam itu, akhirnya kami kembali seperti dulu,” senyum Seunghyun mengembang ketika mengatakannya. Tidak untukku, sederetan kalimat tersebut seakan-akan menjadi sebuah tamparan keras bagiku. Aku hanya diam mendengar ceritanya sambil menahan sesuatu di dadaku. Sebuah pergolakan yang sangat hebat, semua perasaan buruk menyatu. Aku merasa air mataku akan keluar.
“Chukhae…, aku senang mendengarnya” ucapku memaksakan diri. Aku berusaha tersenyum setulus mungkin agar tidak terlihat berpura-pura di depannya. Setelah itu aku buru-buru mengalihkan perhatiannya.
“A… Seunghyun ah, mianhee… aku sudah sangat mengantuk, aku pergi ke atas dulu” Aku langsung beranjak menuju tangga untuk pergi ke kamar, aku tidak ingin dia melihat wajahku yang mulai memerah.
————————————————-

Han Se Jin, dia adalah seorang gadis yang sangat cantik dan modis. Siang ini dia datang ke art shop Seunghyun. Seunghyun memperkenalkan diriku padanya, dia mengenalkanku sebagai sepupunya. Aku membungkukan badanku, kemudian menatap dirinya. Sungguh sangat jauh berbeda denganku, gadis itu mudah bergaul, cantik, dandanannya keren, dan juga ramah. Aku, juga beberapa pengunjung di toko ini terpana ketika melihatnya, seakan-akan tidak akan ada yang bisa menandingi gadis itu. Dan juga, sekarang semua orang di toko ini mengenalku sebagai sepupu Seunghyun.

Sepasang kekasih yang sangat serasi, mungkin semua orang akan iri padanya, termasuk aku. Aku hanya bisa menatap keakraban mereka berdua, Seunghyun tampak lebih bahagia dari biasanya. Setelah ini mereka berencana untuk jalan berdua. Seunghyun meminta bantuan Shin Ae untuk membantuku menjaga tokonya. Shin Ae menjerit kesenangan ketika baru saja datang dan melihat Han Se Jin. Jeritan dan lompatan mereka membuat perhatian pengunjung tertuju pada mereka. Aku hanya tersenyum kecil melihat kejadian itu, lucu..tapi menyakitkan. Ya, benar, aku cemburu pada mereka. Cemburu karena Han Se Jin bisa mendapatkan Seunghyun kembali, cemburu karena Shin Ae tampak bahagia melihat kakaknya bersama dengan orang yang tepat, dan cemburu karena wajah Seunghyun yang lebih berseri-seri dari biasanya.

————————————————

Waktu sangat cepat bergulir. Hari demi hari kuhabiskan waktuku dengan siksaan batin yang kuterima. Aku hanya bisa menahannya, dan selalu menangis ketika malam tiba, di mana saat itu Seunghyun sudah tertidur pulas. Setiap pagi mataku yang bengkak selalu menarik perhatiannya, tapi kujawab saja aku tidak apa-apa, setelah itu dia tidak menanyakanku lagi. Malam ini, entah kenapa perasaanku semakin tidak nyaman.

“Lihat Byul ah, cantik bukan?” aku tersenyum melihat benda itu, berkilauan dan sangat cantik. Sebuah cincin yang sangat indah. Aku mengangguk menyetujui pendapatnya.

“Tadi siang, aku membeli cincin ini bersama dengan Shin Ae, dia memilihkannya untukku, dan aku membelinya sepasang,” ucap Seunghyun sambil menatap cincin itu sambil menerawang. “Ah..ini, lihat~,” Seunghyun mengeluarkan satunya lagi dari kotak cincinnya dan menunjukkannya padaku, sekali lagi aku tersenyum melihat benda itu. Cincin itu terbuat dari emas putih. Sepasang, namun ukurannya berbeda, sedangkan di sisi luarnya di penuhi dengan ukiran-ukiran yang indah. Seunghyun memutar-mutar cincin itu dengan jemarinya sambil sesekali mengarahkan cincin itu ke arah lampu untuk melihat kilaunya.

“Kau tahu tidak, apa tujuanku membeli cincin ini?”
“Hm…? apa?” tanyaku penasaran.
“Aku…. akan melamar Han Se Jin, besok” jawabnya sambil setengah berbisik. Ekspresi terkejutku ketika mendengarnya tidak dapat kusembunyikan, wajahku berubah menjadi sangat pucat, hanya saja Seunghyun tidak begitu memperhatikannya. Aku tersiksa, aku tertekan karena terlalu sering aku harus melihat berbagai kemesraan antara Seunghyun dan Se Jin. Tapi kali ini, kata-kata yang baru saja Seunghyun ucapkan lebih menyakitkan daripada melihat mereka berdua, kalimat yang baru saja dilontarkan olehnya seakan-akan membunuhku perlahan. Seunghyun ah? apa kau tidak tahu perasaanku selama ini? aku sudah banyak menunjukkannya padamu? bagaimana bisa kau tidak pernah menyadarinya? apa aku yang hanya terlalu bodoh selalu menunjukkannya, memikirkanmu, dan menangisimu seperti ini? sedangkan dirimu tidak pernah berpaling padaku? aku….. mungkinkah terlalu bodoh mengharapkanmu dan menunggumu? Apakah segalanya akan berakhir setelah ini? Apa yang harus kulakukan setelah ini? apa yang harus kuperbuat tanpamu Seunghyun ah? Jebal… kajima.. gajimayo…. *copyright by me*

————————————————-

16
Dec
09

Forever Love (chap 2)

Seunghyun keluar dari balik pintu di bagian belakang toko ini. Di balik pintu itulah dy tinggal. Selama ini aq tau bahwa itu adalah rumahnya, namun aq tidak pernah mengetahui apa isinya. Dy keluar sambil membawa sebuah kardus yang entah isinya apa, tapi tampaknya isi kardus itu sangatlah berat hingga Seunghyun harus bersusah payah mengangkatnya. Lalu dy meletakkannya di atas sebuah lemari kecil, mengeluarkan satu persatu isinya. Isi kardus itu adalah pigura-pigura yang terbuat dari tanah liat dan sudah dihias dan membuat bentuknya menjadi lebih menarik. Aq berjalan ke arah Seunghyun, bermaksud membantunya untuk menyusun pigura-pigura itu di atas meja pajangan.

“Boleh aq bantu?” Seunghyun sekilas terlihat melirikku.
“Ya, tentu saja boleh,” kali ini dy tersenyum lagi, aihhh~ tampannyaaa…!
“Ehmm~ tapi..” dy melanjutkan kata-katanya. “Kumohon kau berhati-hati membawanya, aq akan rugi besar jika kau memecahakannya seperti kau memecahkan cangkirku tadi” Ujarnya sambil sedikit tertawa bermaksud menghilangkan nada keraguan dalam kata-katanya. Takut aq akan tersinggung oleh kata-katanya.

Aq ikut tertawa, “Tentu saja aq akan berhati-hati, jangan khawatir Seunghyun,” Aq menepuk-nepuk pundaknya, berusaha membuatnya rilex. Barulah akhirnya aq mulai mengangkut beberapa pigura ke atas meja dan menyusunnya. Aq menyadari bahwa sedari tadi Seunghyun memperhatikan q dengan pandangan awas. Yah, tapi aq berhasil menyusun pigura-pigura itu dengan sempurna tanpa membuat cacat sedikit pun pada benda itu. Seunghyun akhirnya tersenyum puas.

Seunghyun menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding di atas kasir. Sudah hampir jam setengah delapan rupanya. Dy langsung buru-buru mengembalikan kardus ke dalam rumahnya dan sedikit membersihkan beberapa barang dagangannya yang diselimuti debu. Dy menghela nafas sebentar, kemudian menatap pada q.

“Ya! Byul-sshi, saat toko buka nanti, kau tunggu di rumah q saja ya, jangan keluar! Oke?”
“Waeyo? aq juga ingin di sini, menjaga toko bersamamu,” rengek q seperti anak kecil.
“Haishhh~ lihatlah penampilanmu, baju putih mu sudah kotor,” Aq menatap tubuh q, benar apa katanya. “Ayo~ ayo,, kau masuklah” Seunghyun mendorong-dorong q pelan dan kami berdua masuk ke dalam ruangan yang cukup besar, ruangan yg merupakan rumahnya, akhirnya aq bisa melihat isinya. Ruangan ini tampak besar, bersih, bergaya minimalis, beberapa perabotan terbuat dari kayu, beberapa tanaman hias tampak terletak di sudut-sudut ruangan, membuat nuansa ruangan ini menjadi lebih segar.

Di ruangan yang besar ini dy tinggal sendiri, aq jadi teringat, sebulan yang lalu adik angkatnya masih ada di sini, tinggal bersamanya. Aq berbalik menghadapnya dan menanyakan keberadaan adik angkatnya itu.

“Hei, bukankah sebulan yang lalu, kau masih tinggal bersama adik angkatmu? lalu kemana dy sekarang?” Seunghyun mengerutkan kening.
“Bagaimana kau tau soal adik angkat q?”
“Aq khn sudah pernah bilang, bahwa aq banyak tau soal dirimu Seunghyun!” aq berusaha meyakinkannya. Dy menghela nafas.
“Shin Ae maksud mu?”
“Ne”
“Dy sudah menikah, dan sekarang dy tinggal bersama suaminya, Kim Ki Bum,”
“Nugu?”
“Kim Ki Bum, suami Shin Ae”
“Wah dy mendahuluimu,” Aq tersenyyum nakal padanya, menggoda Seunghyun.
“Ya, memang, dasar anak itu, jahat sekali mendahului q, harusnya aq yang lebih dulu menikah dari pada dy. Apalagi umurnya masih muda. Aq tidak mengerti jalan pikirannya, dan juga jalan pikiran suaminya. Berani sekali di umur yang masih muda ini mereka mengadakan pernikahan. Tidak adil!” Seunghyun menggerutu sambil menggembung-gembungkan pipinya, betapa cute nya dia. “Hei, kenapa kau tersenyum seperti orang gila? lucu mendengar cerita q?” Aq tersadar, dari tadi aq tersenyum-senyum menatap wajahnya, dan juga karena ceritanya. Aq masih punya banyak kesempatan.

“Haha, aq hanya merasa lucu saja, kenapa bukan kau yang menikah duluan? padahal kau kan sudah cukup umur, apa masih belum ada wanita yang menarik hatimu, hah?” Seunghyun menggeleng dengan imutnya, membuat q ingin mencubit pipinya.
“Ah~ sudah sudah, sekarang kau tunggulah di sini,” Dy mengantarku ke arah sofa di depan tv, dy menyalakan tv na agar aq tidak bosan menunggunya. Tapi aq segera beranjak dari sofa itu, dan memanggil Seunghyun yang hendak keluar ke arah pintu toko.
“Seunghyun!” dy menoleh.
“Mwo? apa lagi?”
“Aq tidak mau menunggu di sini, aq ingin ikut bersamamu” rengekku sekali lagi.
“Aigoo~, Byul-sshi, aq harus bekerja,” Aq memasang tampang kecewa. “Baiklahh..baiklah….” Seunghyun langsung menarikku, pergi ke lantai dua melalui tangga kayu. Akhirnya kami sampai di sebuah ruangan yang lebih kecil, yang merupakan kamar Seunghyun. Dy langsung membuka lemarinya.
“Byul-sshi, aq tidak punya baju perempuan, untuk sementara, kau dapat memakai kaus q,” Dy memberikan sebuah kaus berwarna hitam serta sebuah celana training berwarna biru.

“Gantilah bajumu, aq menunggu di bawah,” Aq mengangguk pelan, tanda mengerti ucapannya. Terdengar suara langkahnya menuruni anak tangga dengan cepat.Selesai mengganti baju, aq langsung turun ke bawah, menyusul Seunghyun.

Kini aq duduk di dekatnya, terdiam. Belum ada satu pun pengunjung yang datang. Yah~ memang di pagi hari, toko ini selalu sepi pengunjung, namun terkadang ada beberapa pengunjung yang akan pergi ke luar kota terburu-buru membeli oleh-oleh dan datang ke toko Seunghyun pagi-pagi. Seunghyun berdiri dari tempat dy duduk, pergi menuju pintu keluar, dy lupa memasang tanda OPEN pada pintunya. Aq tertawa kecil. Kemudian dy menoleh padaku.

“Byul-sshi, mau minum kopi bersama q di cafe itu?” Dy menunjuk ke arah cafe di seberang tokonya. Aq mengangguk cepat, sesegera mungkin aq pergi ke arahnya. Dy menggenggam tangan q, tangannya hangat dan besar. Aq tersenyum diam-diam menatapnya dari belakang.

Kami berdua menyebrangi jalanan kecil di depan art shop. Seunghyun menyuruh q duduk di tempat yang di pilihnya, seorang waiter datang pada kami dan menawarkan menu. Seunghyun memesan 2 cangkir kopi hangat. Aq menunggu sambil melihat-lihat ke arah jalanan, pandangan q kembali tertuju pada boneka yang terpajang di etalase art shop milik Seunghyun, aq tersenyum sekilas dan memandang ke tempat lain. Ini pertama kalinya, aq bisa mengedarkan pandangan q ke segala arah, melihat pemandangan di sekitar art shop selain langit dan cafe ini tentunya.

Beberapa menit kemudian, waiter yang tadi, mengantarkan dua cangkir kopi hangat dan menyajikannya di depan kami, dy juga menyajikan beberapa potong garlic bread di hadapan kami sebagai hidangan gratis.

“Ini, cobalah, aq yakin kamu belum pernah mencicipinya dan sekarang kau kelaparan,” Seunghyun menyodorkan piring berisi garlic bread itu ke arah q. Aq mengambilnya satu dan memasukkannya ke mulut q. Sungguh~, rasanya sangat enak!

“Enak sekali!!” seruku kemudian melahap sekali lagi roti itu.
“Jeongmal?” tanyanya sambil tertawa melihat tingkah udik q. Aq mengangguk untuk kesekian kalinya. “Hahaha, roti itu memang sangat enak, cocok untuk sarapan pagi,” katanya sambil menyeruput kopinya.

Sudah cukup aq memakan dua potong garlic bread, aq merasa haus, lalu aq mengambil cangkir kopi q. Sebelum aq menempelkan bibir q pada bibir cangkir, Seunghyun memanggilku.

“Byul-sshi” Aq mendongakkan kepala q, menunggu dy mengucapkan kata-kata berikutnya. “Hati-hatilah~, jangan sampai kau meneguknya seperti meneguk coklat panas q tadi” ujarnya mengingatkan. Aq senang dy memperhatikan q, lalu aq mulai menyeruput kopi q pelan-pelan. Wangi kopi itu enak, segalanya baru pertama kali q rasakan hari ini. Menyentuh Seunghyun, berbicara dengannya, masuk ke dalam rumah di belakang tokonya, membantunya, memakai bajunya, duduk di dekatnya, berhadapan dengannya, mencicipi kopi, coklat, dan juga garlic bread. Fuahhh~, sangat menyenangkan, benar-benar baru kali ini aq bisa merasakan hidup q sebagai seorang manusia. Sangat Indah~ hahahaha.

Seunghyun membetulkan posisi duduknya, matanya memandang ke arah q. Sepertinya dy akan menanyakan suatu hal. Akhirnya dy berdehem, dan mulai membuka mulutnya.

“Byul-sshi” lagi-lagi Seunghyun memanggil nama q dengan lembutnya. “Huffff…, sejak awal pertemuan kita pagi tadi, aq sangat heran denganmu. Aq menemuimu tersungkur di depan toko q, q pikir saat itu kau pingsan, dan aq memanggilmu sambil mengguncang pundak mu berulang kali. Saat akhirnya kau tersadar, tiba-tiba saja kau memelukku. Mungkin kau memang mengenalku, tapi aq tidak mengenalmu, sama sekali. Bertemu saja rasanya tidak pernah. Jadi, sebenarnya siapa kau?” Seunghyun mendorong tubuhnya ke depan, lebih dekat ke arah q dengan tampang penasaran. Aq memandang kembali boneka di etalase, sambil menggigit bibir q, akhirnya aq mengaku.

“Seunghyun, sebenarnya…..” Aq menarik nafas panjang-panjang. “Sebenarnya aq adalah boneka itu,” Aq menunjuk boneka yang terpajang di etalase tokonya. Seunghyun pelan-pelan menoleh, kemudian melongo dengan tampang konyol.

“Hah?? kau adalah boneka itu?? Hahahaha…..hahahaha….hahaha..hahaha….” Seunghyun tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan q, dy terus memukul-mukul pahanya dengan girang. Lalu menutup mulutnya dengan tangan kiri, seakan-akan ingin mengehentikan tawanya, namun tetap tidak bisa. “Aq baru kali ini mendengar pengakuan seseorang yg sangat tidak masuk akal,” Seunghyun kembali tergelak. Aq terpaksa tersenyum, menyesal sudah mengatakan hal yang menurutnya konyol. Akhirnya Seunghyun bangkit dari kursinya dan mengajak q kembali ke art shop nya. Dy masih tertawa, tapi kali ini mulai mereda. Aq melihat ke samping, ke wajahnya yg menghadap lurus ke depan. Lebih cerah dari pada tadi, mungkin karena lelucon q tadi, yah~ setidaknya aq bisa menghiburnya.

“Seunghyun~,” Aq memanggilnya dengan sangat pelan, dan sepertinya dy tidak mendengar, tapi dy menoleh.
“Ada apa?” katanya sambil tersenyum. Nada suaranya seperti menggoda q.
“Aq senang…berada bersamamu seperti ini, akhirnya penantian q selama ini tercapai juga, aq bisa mengobrol denganmu, menggenggam tanganmu, bisa berhadapan denganmu. Sebelum aq bisa seperti ini, aq hanya bisa melihatmu itupun jika kau berada di depan q, jika kau di samping q ataupun di belakang q, aq tidak dapat melihatnya kecuali hanya mendengar langkah kakimu dan suara mu ketika kau berbicara. Aq senang kau mengajak q mengobrol, mengizinkan aq tinggal di rumah q, terima kasih~” Seunghyun terdiam memandang q, seolah-olah dy masih menganggap omongan q tidak masuk akal. Membuatnya bingung.

“Aq sebenarnya tidak begitu paham apa maksud omonganmu, aq berusaha mengerti sedikit demi sedikit kondisimu. Aq juga tidak tau kau berasal dari mana, mengamati q darimana. Saat aq menemukanmu, yang kau ingat hanyalah diri q, tapi dari tingkah lakumu, seolah-olah kau baru saja bebas di dunia ini. Yah~ mungkin memang kau kehilangan sebagian ingatanmu, terima kasih juga karena kau telah mengamatiku selama ini, dan hanya mengingat q ketika kau hampir kehilangan seluruh memorimu,” Senyumnya merekah, lalu menggandeng tangan q dan membawa q ke dalam. Aq duduk di tempat q semula, menjaga toko bersamanya.

Hari sudah mulai siang, pengunjung mulai banyak berdatangan. Dari anak kecil, remaja, orang dewasa, sampai orang tua. Kebanyakan pengunjung adalah anak SMA yang sedang mencari hadiah ataupun benda-benda lucu untuk menghias barang-barangnya. Beberapa dari mereka memandang q, kemungkinan karena menyadari kehadiran q yang baru di sini. Beberapa yg lain ada juga yang memandangiku sinis, aq tau bahwa mereka cemburu melihat q berada di samping Seunghyun. Aq sempat menguping pembicaraan dua orang anak SMA yang cemburu pada q.

“Haisssh~ siapa gadis itu? kenapa dy berada di dekat Seunghyun oppa?”
“Sepertinya dy pegawai baru Seunghyun oppa, dy cantik!”
“Arghh~ apa katamu? dy tidak begitu cantik, dy aneh, dari tadi diam, pegawai apanya? tidak mengerjakan apapun!”
“Bilang saja, kau cemburu padanya khn? dy lebih cantikdaripada dirimu, dan dy diterima sebagai pegawai sedangkan kau tidak, hahaha”
“Erghhh!” gadis itu mengancam temannya sambil mengangkat kepalan tangannya dan mengarahkan kepada temannya, temannya berkelit dengan cepat. Aq tertawa kecil melihat tingkah mereka.

“Hei, Byul-sshi~ kenapa kau tertawa sendiri? apa yang kau tertawakan?”
“Tidak~, hahaha, tidak ada apa-apa” kataku sambil terus cekikikan. Dua remaja tadi menyadari aq menertawakan mereka, hingga akhirnya mereka pindah ke tempat lain. Seunghyun hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.

————————————————

1 setengah bulan berlalu. Aq mulai terbiasa menjalani kehidupan q sebagai manusia, Seunghyun mengajariku banyak hal, seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan ruangan, membuat beberapa kerajinan tangan untuk di jual, dan masih banyak lagi. Walaupun banyak sekali kendala dan butuh waktu lama untuk mengajariku, tapi Seunghyun terus bersabar menghadapiku. Aq juga di suruh Seunghyun untuk bekerja padanya, setiap bulan aq akan dibayar dengan gaji yang cukup untuk memenuhi segala kebutuhan q. Aq mulai bisa membeli baju, tas, dan barang barang lainnya.

Karena aq sudah mulai bisa memasak, aq membagi jadwal memasak dengannya. Seperti di minggu pertama adalah jadwalnya memasak dan minggu berikutnya adalah aq. Terkadang ramuan masakan q tidak pas, hingga membuatnya memuntahkan kembali apa yang sudah dy makan, dan terpaksa kami membeli makanan di luar.

Sebelum tidur, terkadang kami nonton tv bersama, dy selalu menonton acara-acara komedi, aq ikut menikmatinya dan tertawa bersamanya. Dalam waktu sebulan ini, dy ada 3 kali mengajak q jalan-jalan, ke pantai satu kali dan ke taman kota dua kali. Dy membonceng q jalan-jalan dengan vespa antiknya. Aq membiarkan diriku memeluknya erat saat dy membonceng q, punggungnya hangat, membuat q bisa tidur kapan saja di punggungnya.

Setiap malam, Seunghyun selalu membiarkanku untuk tidur di kamarnya, sedangkan dy tidur di ruangan bawah. Kadang aq kasihan kepadanya, karena aq, dy tidak bisa menikmati kamarnya sendiri. Pada suatu hari, aq pernah memintanya untuk tidur di kamarnya sendiri, sedangkan aq tidur di bawah, tapi dy tidak mengizinkannya. Dy takut aq sakit karena udara yang lebih dingin di ruangan bawah daripada di kamarnya.

Aq bahagia menjalani hidup q seperti ini. Seunghyun dan aq menjalani kehidupan bagaikan sepasang kekasih yang hidup bersama. Banyak sekali gadis-gadis yang iri pada q. Beberapa dari mereka sama seperti 2 anak SMA yang dulu. Memandang q sinis, membicarakan q yang buruk-buruk, dan tidak ramah kepada q. Setiap aq menyapa mereka, mereka seakan-akan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing sampai mereka tidak sempat menyapa q kembali.

Tidak akan kubiarkan setiap kesempatan bersama Seunghyun lewat begitu saja. Apalagi setelah aq mendapatkan sebuah mimpi aneh beberapa hari yang lalu. Aq di datangi oleh seorang wanita cantik dalam mimpi q. Wanita itu sangat cantik, kulitnya putih dan memancarkan cahaya yang menyilaukan, dy bagaikan malaikat. Tubuhnya di balut gaun yang sangat indah, permata di mana-mana. Kemudian wanita itu menghampiri q, membisikkan sesuatu yang mengejutkan di telingaku. Dy berkata bahwa dy meminjamkan tubuh yang sekarang aq gunakan hanya untuk sementara, suatu saat nanti aq akan kembali ke tubuh boneka q. Tapi, entah sampai kapan aq tidak tau, aq terbangun saat wanita itu hendak mengucapkan kata-kata penting itu. Huff~ seolah-olah aq diberitahu, bahwa aq tidak akan bisa selamanya menghabiskan waktu q dengan Seunghyun. Aq menangis setelah terbangun dari mimpi q itu, namun aq berusaha melupakannya dan menjalani apapun yang terjadi sekarang. Berusaha menikmatinya~, bersama Seunghyun.

—————————————— T*B*C————————————————-

16
Dec
09

Forever Love (chap 1)

“Jogiyoo~….Jogiyoo~”
Aq mendengar sebuah suara, dan merasakan seseorang mengguncang pundak q. Huff~ bagus, aq sudah terjual, mungkin sekarang aq sudah ada di tangan seorang anak kecil, dan menjadi bulan-bulanannya. Emhh~ Tunggu! tapi suara ini~ bukan suara seorang anak kecil, sebuah suara yang sangat q kenal, lembut dan sedikit berat, mungkinkah?

Perlahan-lahan aq membuka mata, pandangan q masih sedikit kabur, dan sekarang aq sudah seratus persen sadar. Aq menatap sosok yang berada di depan q, posisinya jongkok dengan tangan melambai-lambai di depan mata q. kemudian aq menatap wajahnya, wajah yang sangat familiar.

“Seunghyun!!!!!” Aq langsung terbangun dari posisi q yang tadi telungkup, berganti memeluknya dengan erat. Seunghyun rupanya terkejut dengan tindakan q yang tiba2 itu.

Aq mengendurkan pelukan q, melepasnya dan menatap kedua telapak tangan q yang gemetaran. Heran, kaget, dan bahagia. Aq tidak menyangka, aq kini memiliki sebuah tubuh, tubuh manusia, dan bukan tubuh boneka. Aq menelusuri tubuh q dari kaki sampai ke tangan dengan mata q. Melihat diri q terbalut baju terusan berlengan panjang berwarna putih. Aq berada dalam tubuh seorang gadis. Aq melompat-lompat kegirangan dan memeluk Seunghyun berkali-kali hingga membuatnya kebingungan. Entah apa yg dy pikirkan, aq sebagai orang gila, aq sebagai orang sakit, hilang ingatan, atau apapun, aq tak peduli. Yang terpenting adalah aq dapat melihat dirinya, menyentuhnya, dan tidak lagi hanya di pendam dalam hati.

“Eeeng~, Jogiyo~…apakah kamu mengenal q?” tanyanya hati-hati, mata q kembali teralihkan ke wajahnya. Menatapnya dalam-dalam, dan membuat seunghyun sedikit salah tingkah. Lalu aq mengangguk mantap sambil terus tersenyum girang.

“Maaf, tapi aq tidak mengenalmu, bisakah kau memberitahu q, siapa kau?” Aq memasang raut wajah sedih. “B..bukan maksud q membuatmu sedih, aq benar-benar tidak mengenalmu”

“Aq….aq selalu melihatmu…aq mengenalmu lebih dari siapapun,” jawaban q tambah membuat Seunghyun bingung. Udara pagi sangatlah dingin, aq kembali gemetaran, dan memeluk diri q agar tubuh q bisa sedikit hangat.

“Hatttschiiii~!! Hatschii~” Aq berkali-kali bersin karena angin dingin yg terus berhembus ke arah q. Seunghyun langsung menarik siku q, dan membawa q masuk ke dalam tokonya yang masih belum di buka untuk pengunjung. Aroma dan hangatnya art shop milik Seunghyun membuat q benar-benar nyaman. Seunghyun membiarkan q duduk di sebuah kursi kayu, dan membawakan q coklat hangat. Aq menghirup aromanya, nikmat sekali, harum…dan aq ingin segera menyicipinya. Seunghyun duduk di hadapan q, di seberang meja, menatap q asing. Aq mengambil coklat hangat itu dan langsung meminumnya.

“Fuahhhhhh~ haaaashhhh!!!! arghhh~” aq melemparkan cangkir berisi coklat ke lantai, dan isinya berceceran ke mana-mana. Aq terus mengipas-ngipas lidah q. Seunghyun yg terkejut akan kejadian yang menimpa q langsung lari ke belakang mengambilkan aq air mineral dan memberikannya pada q.

“Ya! Coklat itu memang masih sedikit panas, apa kau sudah gila meneguknya sebanyak itu? seruputlah sedikit-sedikit, arasso?” nadanya sedikit marah, aq hanya mengangguk-ngangguk sambil meneguk air mineral yang diberikan olehnya. Dy pergi ke belakang lagi dan mengambil sebuah kain untuk membersihkan coklat q yang tumpah.

“Mianhee~” ucapku pelan-pelan. Seunghyun langsung menghentikan kegiatannya. Menoleh ke arah q dan tersenyum kecewa.

“Gwaenchana~” Dy melanjutkan kembali kegiatan na membersihkan lantai, dan sekali lagi pergi ke belakang, kemudian kembali duduk di hadapan q dengan wajah lesu.
Aq menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Seunghyun juga menatap q, namun dy mulai mengukir senyum di bibirnya dan tertawa kecil melihat tingkah q. Aihhhh~ senyumnyaaaaaaaaaa, indahh sekalii!! Aq terpana melihat senyum itu, membuat q ikut tersenyum.

“Ehem..” Seunghyun mulai bicara, “Ngomong-ngomong, kau ini berasal dari mana? kenapa kau bisa mengenal q? Bagaimana bisa tadi kau tersungkur di depan toko q jam 6 pagi? Siapa nama mu?” Aq menganga mendengar pertanyaannya yang bertubi-tubi, bingung bagaimana menjawabnya. Aq mengalihkan pandangan q ke arah lain, kemudian menatap sebuah gantungan berbentuk bintang yang terpajang di dindingnya.

“Byul..” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut q.

“Byul? namamu Byul?” Aq kembali menoleh kepadanya, mengangguk, mengiyakan pertanyaannya. “Lalu~, asal mu? bagaimana kau bisa mengenal q?” Aq semakin bingung dibuatnya, pertanyaan-pertanyaan itu, susah untuk aq jawab. Jika aq menjawab hal yang sejujurnya, dy tidak akan percaya. Aq tau, kebanyakan manusia tidak akan percaya cerita soal diri q yang sebenarnya adalah sebuah boneka, kemudian karena keajaiban aq bisa menjadi manusia. Itu Konyol! akhirnya aq hanya menjawab sekenanya.

“Aq tidak tau, saat bangun tadi, aq tiba-tiba saja ada di depan toko mu, aq tidak tau asal q darimana, namun yang ada di ingatan q hanyalah dirimu saja, entah kenapa..” Aq menunduk, tak ingin melihat ekspresi bingungnya. Namun Seunghyun sepertinya mengerti, dy mengangguk, dan sepertinya dy mengira aq hilang ingatan.

“Jadi kau benar-benar tidak tau di mana kau tinggal, dan bagaimana kau bisa sampai di depan toko q?” aq menggeleng. Dy mengangguk untuk kesekian kalinya. “Baiklah, aq akan mengizinkanmu tinggal di sini, sampai ingatanmu pulih,” Benarkah? apakah ini nyata? aq diizinkan tinggal di sini? tinggal bersamanya? menemaninya? aq ingin melompat, saking bahagianya, tapi aq berusaha menahan diri q agar tidak membuatnya kesal. Aq hanya mengungkapkannya dengan senyuman.

“Byul-ssi, jam setengah delapan aq harus membuka toko q, aq harus siap-siap, kau mau menunggu di mana?”

“Ahh~ di sini saja” jawab q sambil tersenyum. Seunghyun membalas senyuman q, dan pergi ke ruangan di sisi lain toko ini.

Aq memutuskan untuk mengelilingi toko Seunghyun, melihat-lihat apa saja yang dy jual selama ini selain diri q. Tak lama setelah berjalan, aq menemukan sebuah cermin besar. Aq menatap cermin itu, menyentuhnya dengan jemariku. Aq melihat wajah seorang gadis cantik, wajahnya putih pucat, bibirnya berwarna kemerahan, pipinya merona, alisnya hitam tebal, dan rambutnya panjang berponi. Aq menyipitkan mata q, menyentuh bibir q, kemudian hidung q, pipi q. Bayangan di cermin itu adalah diri q, wajah cantik itu adalah milik q. Aq tersenyum, bayangan itupun ikut tersenyum. Kemudian aq menoleh ke arah etalase toko, melihat diri q yang dulu, sebuah boneka anak perempuan kecil berada dalam posisi tidur miring. Kaki q melangkah ke arah etalase, menggapai boneka itu dan membawanya ke dalam pelukan q. Mata q memandangi lagi boneka itu. Sambil tersenyum aq meletakkan kembali boneka itu dan memperbaiki posisinya. Hebat! Luar biasa! bagaimana pun juga, doa q akhirnya terkabul.

TBC————————————————————————— ^^

NB: Mian,, masi banyak cacat na ^^, silahkan Komen n Kritik~
Hope U like it 😀

16
Dec
09

My 1st fanfic : Forever Love

Cast : Song Seung Hyun

NB : Ini adalah fanfic yg udah kesekian kalinya aq buat,, tapi baru FF ini yg aq post ^^
Cast na baru song sung hyun,, coz aq blom mikirin soal cast2 yg lain~ karena fanfic ini pun aq buat secara spontan,, begitu ajha muncul ide n langsung aq tulis~
Yg q tag,, yg baca~ harap komen,, n klo bsa berikan saia kritik yg membangun
okeh?? XD
Mian kalo cerita na gak bgitu bagus,, cz ini debut q pertama kali *halah apaan coba?
Hope u like it ^^

—————————————————————————————————-

Saranghaeyo~
itulah kata2 yg selalu terlontar pertama kali aq melihat wajah itu.
Entah~ ada suatu getaran yg tidak biasa ketika dy selalu berada di dekat q. Biar aq tidak melihatnya pun, entah dy berada di belakang q barangkali, aq selalu merasakan kehadiran na dan merasa bahagia karenanya.

Song Seung Hyun~
Pemilik sebuah art shop
Pria itulah yang selama ini selalu menjadi sumber kebahagiaan q, oasis q~ dy selalu membantu q saat aq membutuhkan. Memang tidak membantu secara langsung, namun ketika aq sedang didera masalah, hanya melihat wajahnya saja aq merasa sangat bahagia.
Walaupun di dalam hati, aq sedih dy hanya menganggapku sebagai sebuah boneka, boneka berbentuk anak perempuan kecil yg terpajang di etalase toko miliknya. Menanti seseorang membeliku, dan membawaku k suatu tempat yg berbeda.

Aq sudah lama jatuh cinta kepada Song Seung Hyun, dylah yg membuat q seperti ini, aq menginginkan na lebih dari apapun. Aq harap, aq tidak laku dijual agar dapat selalu melihatnya, kapan pun….

Aq tidak ingin berpisah sedikitpun dengannya, seandainya saja aq dapat bergerak, dan dapat selalu berada di sisinya, menemaninya setiap saat, ketika dy lelah, ketika dy tertawa, aq sangat suka saat2 dy tersenyum, senyuman na sangat manis, dan membuat q juga tersenyum.

Akankah suatu saat nanti aq dapat bergerak, menemuinya?
Tapi aq sadar, aq tau diri, bahwa aq hanyalah sebuah boneka, boneka berbentuk anak perempuan kecil yg rambutnya di kepang dua, memakai sepatu berwarna merah, dengan ekspresi wajah datar dan pipi merona.

Setiap malam, aq selalu berdoa, berharap suatu saat nanti aq akan selalu mendampinginya, menggandeng tangannya, memeluknya, dan menciumnya.
Terkadang aq hanya bisa menangis…., menangis dalam hati, membayangkan, betapa doa yg q panjatkan itu hanya sia2, dan tidak akan pernah terwujud, karena aq hanyalah sebuah boneka…

————————————————————————–

Seung Hyun mulai menutup tokonya, hari sudah sangat larut, pengunjung sudah tidak ada, jalanan mulai sepi. Lampu tokonya sudah dimatikan, aq sendirian lagi dan kesepian tanpanya. Mata q hanya dapat menatap lurus ke depan, ke jalanan yang kini hanya di terangi beberapa lampu.
Meskipun begitu, ternyata masih ada yg menemaniku, kerlap kerlip bintang di langit gelap yg indah. Aq tidak dapat melepaskan arah pandangan q, aq kagum dengan bintang2 itu. Tanpa mereka, langit tidak akan secantik ini di mata q. Dengan menatapnya saja, aq dapat sedikit melupakan kesedihan q yang kesepian tanpa sosok seunghyun.

Rasanya aq ingin sekali memejamkan mata, memutar kembali ingatan-ingatan q tentang Seunghyun yang seharian ini aq dapatkan. Namun aq tidak bisa melakukannya, mata q tak dapat dipejamkan, terbuka sepanjang waktu menatap ke depan, tak dapat menoleh ke mana pun. Karena itu saat ada kesempatan ketika seunghyun berdiri di depan q, aq tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Aq langsung menatap na lekat2 dan memasukkan bayang bayang wajah na ke dalam memori q.

Tanpa terasa, aq sudah cukup lama menatap langit sambil membayangkan dirinya. Kini aq bingung harus memikirkan apalagi, aq masih terus berharap bisa menjadi seorang manusia dan bisa bertemu dengannya. Aq menghayalkan, betapa bahagianya aq jika dapat mengobrol panjang lebar dengannya, sambil menyeruput kopi hangat seperti beberapa pasangan yg sering aq lihat berada di cafe tepat di depan art shop ini.

Aq kembali menatap langit, kini bintang-bintang mulai hilang, 1..2..3…menit, aq menatap langit itu dengan tatapan kosong, hingga sesuatu yg bercahaya dari langit perlahan-lahan jatuh, namun makin lama makin cepat dan menuju ke arah q. Aq tidak dapat berbuat apa-apa, aq ketakutan, aq ingin meneriakan nama seunghyun, tapi tidak keluar satu suara pun. Cahaya itu mulai menembus kaca etalase, kacanya tidak pecah, seakan-akan bentuknya tidak nyata dan hanya bayangan q saja. Lalu cahaya itu sekarang persis berada di depan wajah q. Rasanya dingin, tubuh boneka q terasa membeku, aq tidak dapat berpikir normal sekarang, pandangan q kabur, jiwa q seakan-akan tercabik-cabik, ditarik dari dalam dan seperti dikeluarkan perlahan-lahan. Sakittt~ sakittttt sekali!!

Aq ingin berteriak dan aq ingin lari. Tak pernah aq mengalami hal seperti ini. Apakah aq akan mati? akankah ingatan q tentang seunghyun akan hilang? Tidakkk!! aq tidak mau! Aq masih ingin melihat Seunghyun! aq masih ingin mencintainya~ tidakk~ tidakk!!

Kesadaran q mulai hilang, aq sudah tidak berdaya, tubuh q kini terjatuh. Aq sudah tidak dapat merasakan apapun.

TBC——————————————————————————– ^^

by: Me

from : moonlight-apple.blogspot.com




August 2017
M T W T F S S
« May    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Annyeong Haseo

Chafani imnida yorobeun, annyeong haseo~
you can call me Cha to make it short :)
I'm just a childish person with a simple mind, simple style, simple life and cute personality *don't puke at me please* lol

Thank you for visit my blog
comment more often and make a good relationship with me, yeah, i mean, to be a friend with me, Ok? ;D

Sorry for my poor english, i hope it will not make you confuse

Welcome to my blog, welcome to my world, feel free and enjoy... :)

About Me :)

Chafani
XX Y.O
I'm a Moeslim forever

- Korean addict
- Korean addict
- Korean addict
- Artlicious
- Fashionholic *yeah.. even though i'm not a fashionble one* ;D
- Love daydreaming about many beautiful thing in this world
- A selfish person is my bad side =,=
- The one that love (Tea, Coffee, Cappucino, Milk, Moccha, Chocolate) very much <3

Stalker ::

Yahoo! Messenger ^^