22
Jan
10

It’s You (chap 4)

Title : It’s You (chap 4)
Author : Chafani
Rating : PG +13
Genre : Romance
Main Casts : Kim Shin Ae, Kim Ki Bum, Choi Shin Woo, Lee Jin Ki.
Other Cast : Choi Sena, Jung Yun Ah
Theme Song : f(X) – (Step By Me, You’re my destiny), Luna ft Krystal – Hard But Easy, Shinhwa – Isn’t it beautiful, SHINee (Jojo, YOU, The Named I Love)

“Ting Tong~” bel rumah Shin Ae berbunyi, namun tidak ada seorang pun yang merespon, orang itu akhirnya menekan bel sekali lagi. “Ting tong ting tong ting tong ting tong”

“Iyaaaaaaaaa!!!!! tunggu sebentarrr!! sabaaar!” Shin Ae berteriak dari dalam, dia sedikit kesal dengan orang yang menekan bel rumahnya berkali-kali. ‘Huh?! siapa sih siang-siang begini mencet bel berkali-kali, berisik !!!’ gerutunya dalam hati. Shin Ae pun menarik knop pintunya. Di lihatnya seorang cowok tinggi dan putih dengan alis tebal. Ya! siapa lagi kalau bukan Jinki.

“Jinki ah?”
“Annyeong,” nada sapaan Jinki tidak jauh berbeda seperti kemarin, dingin.
“Ah..annyeong juga, kenapa kau mendadak kemari?”
“Eomma mu ada?”
“Tidak ada, dia sedang pergi, ada apa memangnya? tiba-tiba menanyakan eommaku?”
“Ah, tidak ada apa-apa, aku hanya ingin membawamu ke suatu tempat, ada sesuatu yang harus kutunjukkan kepadamu, jadi cepatlah ganti baju,”
“Ne, baiklah,” Shin Ae menurut dan langsung bergegas menuju kamarnya di lantai atas. Hanya beberapa menit berlangsung Shin Ae sudah siap dengan kaos merah yang ia kenakan, serta celana Jeans kesayangannya, tidak lupa ia mengikat rambutnya juga mengenakan kacamata. “Kita mau kemana?” tanya Shin Ae penasaran.
“Huh~ dandananmu biasa sekali,” protes Jinki
“Haishhh…, biasanya juga kalau aku pergi denganmu dandananku seperti ini, lalu kita mau ke mana sekarang??”
“Nanti juga kau akan tahu, ayo cepat, nanti kita terlambat,” Jinki menarik tangan Shin Ae.
“A…, ahh~ tunggu sebentar,” Shin Ae cepat-cepat menutup dan mengunci pintunya, lalu menaruh kuncinya di bawah sebuah pot bunga, kemudian kembali mengikuti Jinki keluar dari gerbang rumahnya.

Mereka sampai di depan sebuah taksi, Jinki menyuruh Shin Ae masuk terlebih dahulu, sedangkan Jinki duduk di kursi depan. Shin Ae bingung dengan tingkah aneh sahabatnya, sejak kemarin Jin ki dingin kepadanya, namun dengan kepribadiannya yang masih dingin itu, tiba-tiba Jinki mengunjungi rumahnya dan menyuruh Shin Ae mengikutinya untuk pergi ke sebuah tempat? sebenarnya apa yang terjadi?

Selama dalam perjalanan, mereka hanya diam saja, tidak ada topik pembicaraan yang keluar satu pun dari bibir mereka, Shin Ae hanya menatap jalan-jalan yang mereka lalui sambil berusaha memperhatikan arah untuk mengetahui ke mana mereka akan pergi. Jinki duduk tenang di kursi depan sambil tetap menatap lurus ke depan, sedangkan sang supir taksi sibuk menyetir sambil sesekali menoleh ke arah pertokoan-pertokoan yang dilaluinya.

Sekitar beberapa meter dari posisi mereka saat ini, terlihat sebuah rumah dengan pagar kayu yang sudah tidak asing lagi bagi Shin Ae, dan dalam beberapa menit saja, taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah itu. Shin Ae membuka pintu taksi dan menatap bangunan yang kini ada di depan matanya. Rumah itu lumayan besar, dilihat dari sela-sela pagar kayunya, rumah itu jelas sekali memiliki sebuah halaman yang cukup luas untuk memarkir sepuluh buah mobil sedan.

Selesai membayar supir taksi, Jinki langsung mengajak Shin Ae untuk masuk ke dalam. Jinki membuka gembok pagarnya yang terkunci, dan setelah Jinki membukanya, isi halaman rumah itu kini tampak lebih jelas. Beberapa tanaman hias dari beragam jenis tampak berjejer di sebuah rak kayu di dekat pagar, mereka melalui sebuah jalan setapak, dan di sebelah kiri jalan, terdapat sebuah ayunan dengan dua buah kursi yang berhadapan yang mampu menampung empat orang dewasa. Sedangkan tanah-tanah halaman tersebut dipenuhi oleh rumput-rumput hijau lebat yang cantik. Shin Ae melihat halaman rumah itu dengan penuh kekaguman.

“Waahhh, Jinki ah, sudah lama aku tidak pergi ke rumahmu, halamannya semakin cantik saja,”
“Hmm.. benarkah?”
“Ne, cantik sekali, pasti ibumu yang merawatnya,”
“Ya… siapa lagi kalau bukan ibuku,” Jinki lagi-lagi menjawab dengan ketus dan langsung mempercepat langkahnya mendahului Shin Ae menuju pintu rumahnya. Shin Ae mengerutkan kening, dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun? tapi bagaimana mungkin Jinki bisa membalasnya dengan seketus itu. Seraya mengerucutkan bibirnya, dia mempercepat langkahnya juga untuk mengejar Jinki.

Jinki mengeluarkan kunci rumahnya yang ada di saku celananya, kemudian mengarahkan kuncinya ke arah lubang pintu secara perlahan, Shin Ae memperhatikannya dengan seksama, dan tiba-tiba saja meluncur sebuah kata-kata dari bibirnya.

“Key..”
“Hah? apa katamu??” Shin Ae yang tersadar dengan kata-katanya, langsung menggeleng cepat sebelum Jinki menyadari apa yang ia katakan barusan.

Setelah pintu terbuka, terdapat sebuah koridor kecil di dalamnya, isi rumah itu sangatlah gelap, hampir tidak ada cahaya sama sekali kecuali cahaya matahari yang merembes masuk ke sebagian kecil koridor dari pintu yang mereka buka.

“Jinki ah..,”
“Hm..? wae?”
“Kenapa rumahmu gelap sekali? biasanya juga kalau tidak ada orang di rumahmu, suasananya akan lebih terang dari ini”
“Masa? sepertinya dari dulu seperti ini,”
“Hei, aku ingat sekali waktu aku datang ke sini dan tidak ada siapa-siapa di rumahmu, ingatanku itu kuat tau,”
“Ahhh.. aku tidak tahu…., tidak usah dipikirkan, cepat masuk,”
“K..kau duluan saja,”
“Haishhh~ ngapain takut sih? cepat masuk sana,” Jinki langsung mendorong punggung Shin Ae perlahan, Shin Ae merasa gugup dan takut memasuki rumah itu, hawanya sangat tidak menyenangkan, apalagi Shin Ae sangat takut gelap. Jinki menutup pintu tersebut dan membuat isi rumahnya semakin gelap, kemudian ia mengikuti Shin Ae perlahan dari belakang.
“Jinki ah! kenapa pintunya di tutup?? gelap tauk,”
“Tidak apa, sudahlah…, kau jalan saja terus,”
“Bagaimana bisa aku jalan kalau tidak ada cahaya sedikitpun??”
“Ikutilah instingmu,”
“Cishh..,” Shin Ae mulai kesal, tapi ia hanya bisa menuruti perintah Jinki dan terus berjalan ke depan dengan sangat hati-hati. Ia masih hafal bagaimana arah jalan di dalam rumah Jinki menuju ruang tamu. Sesekali ia menajamkan pendengarannya untuk memeriksa apakah Jinki masih ada di belakangnya atau tidak.

Sekarang Shin Ae sudah sampai di ruang tamu, ruangan itu benar-benar sangat gelap, seakan-akan tidak ada satu celahpun dari rumah itu yang membiarkan cahaya masuk. Shin Ae hanya terpaku di tempat. Sambil tergagap, dia memanggil-manggil Jinki yang ada di belakangnya.

“Jinki ah, k.. kau.. mas..masih ada di situ kan??” Jinki tidak menjawab pertanyaan Shin Ae. Shin Ae menunggu lagi beberapa saat dan menanyakan kembali pertanyaan yang sama. Tiba-tiba saja, sebuah tangan dingin menyentuh halus lengannya, Shin Ae tidak bisa bernapas dalam beberapa detik, dia ketakutan saat merasakan benda itu menyentuhnya.

“J…Jinki ah, apa yang barusan itu kau??” tanya Shin Ae lagi dengan nada ketakutan. Namun sekali lagi sebuah tangan dingin menyentuhnya, hanya saja kali ini tangan dingin itu menyentuh tangan kanannya. “J…Jinki ahh… apa yang barusan tadi?? di..dingin…, apa itu tanganmu?? Jinki ah! berhentilah menakut-nakutiku!!” Shin Ae setengah berteriak, dia semakin ketakutan setelah sentuhan kedua tersebut, dia tidak berani bergerak sedikit pun. Apalagi tiba-tiba saja Jinki seolah-olah menghilang, tidak ada tanda-tanda bahwa Jinki masih berada di belakangnya. Shin Ae kembali terdiam di tempat, ia berusaha melihat sesuatu tapi tidak bisa sama sekali.

“Huarghhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!” tanpa di duga, sebuah tangan menyentuh pundak Shin Ae dari belakang dengan keras sambil berteriak. Seketika itu juga Shin Ae yang dalam keadaan panik dan terkejut langsung histeris.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” Shin Ae memejamkan matanya, kedua tangannya menutup kedua telinganya, badannya bergetar hebat, dan keringatnya bercucuran.

“……..”

“Saengil chukhaee hamnidaaa…., Saengil chukhaee hamnidaa…, Saengil chukhae Kim Shin Ae……….., Saengil chukhae hamnidaaa………. Yayyyyy!!!” suara tepuk tangan dan letusan-letusan yang riuh tiba-tiba menggema ke seluruh ruangan. Ruang tamu yang tadinya begitu pekat dengan kegelapan, kini terang benderang setelah sebuah lampu menyala. Shin Ae yang wajahnya sudah memerah karena hampir menangis melihat teman-teman sekelasnya berada di hadapannya sekarang. Ternyata mereka sudah menyiapkan sebuah pesta untuk menyambut ulang tahun Shin Ae. Perlahan-lahan senyum Shin Ae merekah melihat suasana rumah Jinki yang sudah di sulap oleh mereka menjadi sebuah ruangan yang berwarna-warni. Dia juga baru mengetahui, ternyata penyebab rumah Jinki sangat gelap tadinya adalah karena setiap celah tempat cahaya masuk ke dalam ruangan sudah di tutupi sedemikian rupa oleh tempelan-tempelan alat perekat. Tangan-tangan dingin yang tadi menyentuhnya juga ternyata adalah tangan salah satu temannya yang sengaja memegang es batu. Shin Ae sangat tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi, dia sangat bahagia ketika mengetahui mendapat kejutan seperti ini.

“Saengil chukhae… hamnida…, saengil chukhaee hamnidaa…, saengil chukhae Kim Shin Ae, saengil chukhae… hamnidaaa….,” sebuah suara lembut mengalunkan sebuah lagu ulang tahun khusus untuk Shin Ae dari arah dapur. Shin Ae menoleh ke arah sumber suara tersebut, di lihatnya seorang laki-laki memakai topeng kertas sambil membawakan sebuah kue tart coklat yang berbentuk kotak dengan ukuran yang cukup besar.

Sampai tepat di depan Shin Ae, laki-laki itu langsung membuka topengnya. Wajah di balik topeng itu tersenyum lembut kepada Shin Ae. Shin Ae yang awalnya melongo tidak percaya kemudian tersenyum lalu tertawa melihat raut wajah Jinki. Shin Ae meraih kue yang di bawa laki-laki itu dan kemudian menaruhnya di meja tamu, sesaat setelah itu Shin Ae langsung memeluk erat Jinki, dan ketika itu pula sorakan demi sorakan mulai menghiasi setiap sudut-sudut rumah. Shin Ae terlalu bahagia di hari itu, dia bahkan lupa akan hari ulang tahunnya sampai pesta yang teman-teman sekelasnya ini adakan membuatnya teringat kembali. Pantas saja sejak kemarin Jinki dingin terhadapnya, ternyata sikap itu merupakan bagian dari taktik untuk mengejutkan Shin Ae di hari ulang tahunnya.

“Nah, sudah cukup berpelukannya, hahahaha. Sekarang, Shin Ae ah, saatnya untuk meniup lilin, sebelumnya jangan lupa make a wish dulu ya,”
“Hahahahaha, terima kasih Jung Yun Ah,” jawab Shin Ae tersenyum. Dia kemudian menghadap ke arah kue di depannya, beberapa lilin sudah terpasang dan menyala dengan indah. Shin Ae mulai menyatukan kedua tangannya dan memejamkan mata. Beberapa menit kemudian matanya terbuka, ia mulai meniup lilin satu persatu. Setelah lilin-lilin itu habis ditiup, semuanya bersorak ria, Shin Ae tertawa senang, dan acara di lanjutkan dengan acara memotong kue. Hari ini semua orang tampak sangat menikmati pesta ulang tahun ini, Jung Yun Ah, yang juga merupakan salah satu teman dekat Shin Ae langsung menyalakan tape dan berjoget dengan anak-anak lainnya. Sedangkan Shin Ae dan teman-temannya yang lain hanya tertawa-tawa melihat tingkah Yun ah, dan teman-teman cowoknya yang menari seperti orang gila.

————————————————-

“Waaaaahh! Jinki ahh!! hari ini menyenangkan sekali, aku tidak menyangka kalian semua akan membuatkan pesta ini untukku, aku hampir saja lupa dengan ulang tahunku,” Shin Ae berteriak-teriak kegirangan dengan mata berbinar-binar di ayunan yang terdapat di halaman rumah Jinki.
“Hahahahaha, menyenangkan bukan? siapa dulu yang merencanakannnya??” kata Jinki sambil menepuk dadanya bangga. Shin Ae tersenyum tidak menyangka bahwa yang merencanakannya adalah laki-laki yang sekarang duduk di hadapannya, yaitu Jinki sendiri.
“Aaaakkk~ gomawoyoooo chingu yaa~” sorak Shin Ae seraya memeluk Jinki sekali lagi hingga membuat Jinki tersipu.
“Hahaha, sudah..sudah, hentikan, memalukan tau??
“Mwo? tapi kan teman-teman sudah pulang,”
“Tapi tetap saja memalukan, ah… ngomong-ngomong, bagaimana dengan kuenya? enak juga kan??” Shin Ae mengangguk mantap.
“Iya, enak sekali, kau beli di mana Jinki ah??”
“Enak saja beli, kue yang tadi kau makan itu kubuat sendiri,”
“Hah?? yang benar?”
“Ne, hebat kan, kau pasti tidak menyangka kalau aku bisa membuat kue seenak itu,”
“Omooo…, kalau gitu lain kali ajari aku ya,”
“Tentu, tapi tidak sekarang,”
“Hahaha, baiklah, gomawo,” Shin Ae tersenyum puas memandang wajah teman dekatnya itu, selama beberapa saat ia memandangi Jinki hingga membuat Jinki salah tingkah. Namun perlahan air mukanya berubah ketika ia mengingat suatu hal, laki-laki di depannya itu menjadi kebingungan dengan ekspresi Shin Ae yang berubah.
“Ada apa Shin Ae ah?”
“Ah.., a.. aniyoo..,”
“Babo! raut wajahmu berubah sedih begitu kau bilang tidak apa-apa?? sudahlahh, cerita saja, kita kan teman, chingu,” kata Jinki yakin. Perlahan Shin Ae mengangkat wajahnya, ia menatap wajah Jinki dengan sedih. Dia menarik nafas sejenak sebelum ia menceritakan perkara yang membuat dirinya sedih.
“Key…,”
“Apa?”
“Key…, Kim Ki Bum…., dialah yang membuat aku sedih sekarang,”
“Ah..dia..,” ucap Jinki mengerti.
“Ne…, lagi-lagi hal ini mengingatkanku padanya, hufff…,”
“Memangnya apa yang membuatmu teringat padanya?”
“Ulang tahunku….,” Shin Ae mendesah, lalu melanjutkan kembali kata-katanya, “Aku… rindu padanya…., dia….., sejak masih SMP, selalu mengajakku untuk jalan-jalan ketika hari ulang tahunku tiba…, selalu saja anak itu membuatku senang dengan kejutan-kejutannya di hari ultahku. Dulu, dia pernah membawaku ke rumahnya, dan aku terkejut ketika dari dapur ia membawakan tumpukan es krim yang sangat besar.., aku protes padanya, kenapa es krimnya besar sekali?? tapi ia hanya nyengir dan menyuruhku untuk cepat-cepat memakannya agar tidak meleleh. Hahaha, perutku saat itu sampai penuh…, dan sisa…,” tiba-tiba saja jemari-jemari Jinki menyentuh wajahnya. Shin Ae tidak menyadari bahwa sedari tadi air matanya sudah menetes.
“Ah… gomawo…,” ucapnya dengan nada sesengukan. Ia melepaskan tangan Jinki dan mengusap air matanya sendiri. Wajahnya terlihat berusaha keras untuk menahan tangisannya. Jinki tertawa kecil melihat Shin Ae seperti itu, dengan lembut ia manaruh telapak tangannya di atas kepala Shin Ae kemudian mengelusnya.
“Haha… ternyata kau ini lucu juga ya kalau sedang menangis,” Shin Ae ikut tertawa kecil mendengar perkataan Jinki. “Tapi…, seseorang yang menangis itu memang tidak boleh dihentikan dari tangisannya, tujuannya agar orang itu menjadi lebih lega nanti, jadi… kalau kau memang benar-benar ingin menangis, lepaskan saja, aku akan menunggumu…,” saat itu juga tangisannya meledak, Shin Ae melepas kacamatanya, kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Jinki sambil tersenyum miris hanya mampu menepuk-nepuk pundak Shin Ae.

“Shin Ae ah, kau tau takdir kan??” ujar Jinki tiba-tiba, Shin Ae hanya mengangguk dalam tangisnya. “Semua hal yang terjadi di masa lalu itu adalah takdir, dan tidak seharusnya kau seperti ini,” mendadak tangisan Shin Ae mulai mereda setelah mendengar sederetan kalimat tersebut, ia melepaskan kedua tangannya dari wajahnya, dan secara perlahan ia menatap Jinki. Jinki tersenyum hangat melihat raut wajah Shin Ae yang masih dibasahi oleh air mata.

“Ya, Shin Ae ah.., itu semua adalah takdir,” jawab Jinki seolah-olah Shin Ae baru saja menanyakan hal itu padanya. “Setiap manusia di bumi ini, tidak akan pernah bisa melawan takdir mereka, karena dari masa lalu, sampai sekarang, apa yang kita lakukan, semuanya merupakan takdir, Key… mengalami kecelakaan, itu adalah takdir, Key… meninggal adalah takdir, Key pergi meninggalkanmu untuk selamanya adalah takdir, kau mengenalku setelah itu adalah takdir, kau bersahabat denganku juga adalah takdir, dan…..,”
“Dan…? dan apa… Jinki ah..,”
“Dan… dan aku…,”
“….?”
“Dan… aku… menyukaimu… itu juga adalah takdir,”
“A…ap..,” bibir Shin Ae tiba-tiba terkatup oleh sebuah kecupan yang mendarat di bibirnya. Shin Ae membelalak kaget menerima perlakuan Jinki. Jinki menutup matanya, dan tangannya memegang kepala Shin Ae. Untuk beberapa saat tubuh Shin Ae membeku, dia tidak menyangka Jinki akan melakukan hal ini, nafasnya seolah-olah berhenti, dan jantungnya berdegup dengan kencang. Setelah beberapa detik, Jinki melepas ciuman itu, dia melihat wajah gadis di hadapannya sudah merona.

“Ta…, tadi itu… aa..,” Shin Ae menyentuh-nyentuh bibirnya sambil gemetar, seolah tidak percaya dengan kejadian yang dengan cepat menimpanya. Jinki hanya tersenyum geli melihat Shin Ae yang tampak gugup.

“Apa aku perlu mengulangi perkataanku lagi?? aku… menyukaimu, apa kau mau menjadi pacarku… Shin Ae ah?”
“A…aa..,” Shin Ae masih belum bisa mengatur bahasanya, dia masih sedikit terkejut dengan peristiwa tadi. Jinki sedikit menunduk menanti jawaban dari Shin Ae.

“Baiklah… kalau memang kau masih belum bisa memutuskannya, aku akan membiarkanmu untuk memikirkannya dahulu,” ujar Jinki sedikit kecewa.

“A…aniyoo…, bukan itu maksudku Jinki ah, ah.. maksudku.., aku.. aku mauu…,” jawab Shin Ae malu-malu. Dalam sekejap mata, Shin Ae melihat mata Jinki sudah berbinar-binar, laki-laki itu terlihat bahagia, tiba-tiba saja Jinki langsung memeluk Shin Ae.

“Gomawooo…. gomawooo Shin Ae ah,” sorak Jinki kegirangan, Shin Ae tertawa melihat tingkah Jinki yang sekarang sudah menjadi kekasihnya, setidaknya untuk beberapa waktu, dia bisa melupakan Key dari hatinya. Jinki adalah orang yang menyenangkan, dan kemungkinan besar ia akan membawa kebahagiaan yang sangat banyak ke dalam kehidupan Shin Ae.

*TBC*

Ufhhh~ akhirnya bisa juga melanjutkan FF chapter ini,
mian ya buat Kim Shin Ae alias aisha karena udah lama nunggu, macet-macet nih idenya. Trus buat Choi Sena, Mian juga ya, karena dari kemarin dirimu sepertinya hanya jadi peran figuran saja, dan di FF ini pun dirimu belum muncul, ntar di ide lainnya, aku bakal munculin kamu sebagai tokoh utamanya deh ^^”
Btw, bagaimana dengan FF nya?? mian kalo chapnya kurang banyak atau kurang memuaskan, hahahaha, tapi semoga kalian suka… ^^
Btw, jangan lupa komennya~ hahaha
Seorang author selalu membutuhkan komen dari readernya,
Cacian..makiann.. di persilahkan, yang penting bisa ngasi saran buat authornya, biar authornya semakin maju hahahaha XDD
Gamsahamnidaa…, gomawoo… *bungkuk2* XDD

Advertisements

2 Responses to “It’s You (chap 4)”


  1. April 17, 2010 at 3:32 pm

    Hey~! Annyeong ^^
    I’m shawol here..
    FF di sini lumayan.. blog FF kami butuh tenaga FF
    Mungkin Cha bisa kasih izin kita untuk take out FF di sini.
    Atau barang kali Cha mau nyumbang FF untuk blog kami
    silahkan berkunjung ke shiningstory.wordpress.com
    Barangkali FF di blog kami bisa jadi inspirasi Cha utk tulis FF

    Thanks chingu ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


January 2010
M T W T F S S
« Dec   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Annyeong Haseo

Chafani imnida yorobeun, annyeong haseo~
you can call me Cha to make it short :)
I'm just a childish person with a simple mind, simple style, simple life and cute personality *don't puke at me please* lol

Thank you for visit my blog
comment more often and make a good relationship with me, yeah, i mean, to be a friend with me, Ok? ;D

Sorry for my poor english, i hope it will not make you confuse

Welcome to my blog, welcome to my world, feel free and enjoy... :)

About Me :)

Chafani
XX Y.O
I'm a Moeslim forever

- Korean addict
- Korean addict
- Korean addict
- Artlicious
- Fashionholic *yeah.. even though i'm not a fashionble one* ;D
- Love daydreaming about many beautiful thing in this world
- A selfish person is my bad side =,=
- The one that love (Tea, Coffee, Cappucino, Milk, Moccha, Chocolate) very much <3

Stalker ::

Yahoo! Messenger ^^


%d bloggers like this: