Archive for December, 2009

31
Dec
09

Harapan gw buat tahun 2010

Gak terasa, 2010 tinggal beberapa jam lagi, letusan-letusan kembang api, terompet-terompet, dan sorak sorai penyambutan tahun baru akan saling bersahut-sahutan. Sedangkan acara tahun baru di TV saling bersaing untuk mempersembahkan proyek acara besar mereka di hari menjelang tahun baru ini.

Ah~ begitu banyak kenangan yang gw rasakan di tahun 2009 ini, rasanya lumayan berat juga meninggalkan tahun 2009. Tapi mau gak mau juga kita harus melaluinya dan berganti ke tahun berikutnya, yaitu tahun 2010.

Hemm~ gak terasa juga ya, waktu yang diperlukan untuk melalui tahun 2009 itu begitu cepatnya, dan dalam hitungan bulan, hitungan minggu, hitungan hari, hitungan jam, hitungan menit, bahkan detik, kita melewatkan banyak sekali kejadian-kejadian penting dalam hidup kita yang gak lama lagi akan tinggal sejarah, gak terasa juga kita sudah melalui hidup kita dengan menorehkan banyak dosa, dan berbagai kesalahan yang kita perbuat, dan untuk hari ini, ada baiknya kita merenungkan diri untuk menjadi yang lebih baik di tahun 2010.

Banyak sekali harapan yang ingin gw ungkapkan untuk tahun 2010 nanti.
Yaitu, gw pengen menjadi orang yang lebih baik di tahun 2010, gw pengen lebih fokus belajar di sekolah, gw ingin mempersembahkan yang terbaik buat orang tua gw, gw pengen bikin orang tua gw bangga, gw ingin jadi orang yang lebih mandiri, gw ingin menjadi orang yg lebih dewasa, gw pengen membuat hidup gw menjadi lebih teratur, gw ingin mengukir lebih banyak prestasi, ge ingin menjadi orang yang berguna, gw pengen lebih sukses lagi dalam mengerjakan segala hal, gw ingin jadi orang yang lebih tanggung jawab, gw ingin jadi orang yang lebih sabar dalam menghadapi suatu hal, gw ingin menjadi orang yang menghargai seseorang agar gw juga dapat di hargai oleh orang lain, gw ingin memandang sesuatu dengan sebelah mata, gw ingin memandang suatu hal dengan pandangan positif agar nantinya juga membawa pengaruh positif dalam hidup gw. Semoga semuanya bisa gw laksanakan dengan baik di tahun 2010 nanti, Aminnn… Y Allah~ ^^

31
Dec
09

Korean in My Life

Gw ngaku, kalo gw adalah fans berat KOREA!! bahkan gw cinta mati ama yang namanya korea!!
Gw suka segala bentuk dan hal-hal yang berhubungan dengan Korea, mulai dari dramanya, film, manhwa, dunia entertainnya, budaya…, fashion.., musik… dan lain-lain.
Dan hal yang paling gw suka dari Korea adalah dunia musiknya yang di penuhi oleh boyband n girlband yang saling bersaing untuk menarik perhatian publik.
Gw suka MBLAQ, BEAST, 2PM, FT Island, SHINee, Super Junior, DBSK, 2AM, Big Bang, 2NE1, f(x), KARA, SNSD, Wonder Girls, Brown Eyed Girls, 4minute, Davichi, 8eight, Rain, Younha, IU, Howl, K Will, dan artis2 Korea lainnya.

Sekarang ini, gw lagi suka-sukanya ama MBLAQ, BEAST, n 2PM, sehingga gw menyatakan diri sebagai A+, Beauty, n Hottest. Karena saat ini gw paling suka ama mereka, alhasil gw maunya fokus ke mereka aja, sedangkan yang lain, gw kesampingkan dulu, gw bakal apdet soal boyband2 lain kalo emang ada yang menarik dari mereka, terutama gw mau ngelepas, Super Junior, DBSK, ama SHINee dulu, bukannya gw gak jadi fans mereka lagi, gw tentu aja masih jadi ELF, Cassie, n SHINee World, tapi untuk saat ini, gw gak terlalu memfokuskan diri pada mereka karena perhatian gw yang terlalu besar ama MBLAQ, BEAST, n 2PM.

Hahaha, semoga gw bisa menjadi A+, Beauty, n Hottest sejati! terutama A+~ LOL XDD

25
Dec
09

Forever Love (chap 5) *FINAL*

Title : Forever Love (chap 5)
Author : Chafani
Rating : PG +13
Genre : Romance
Main Casts : Byul, Song Seunghyun (FT island)
Other Cast : Kim Shin Ae, Kim Ki Bum, Han Se Jin
Theme Song : Yu-mi – Byul (ost 200 pounds beauty), Howl – Between Of One year,

Pagi yang cerah bagi sebagian banyak orang tidak menghalangi pikiranku untuk berpikir bahwa pagi ini lebih kelabu dari hari kemarin, aku menatap ke arah luar jendela dengan pandangan penuh kehampaan, jemariku bergetar dengan kuatnya di atas pahaku, kelopak mataku melebar sekuat mungkin agar tidak membiarkan sebuah lelehan hangat jatuh dan mengalir halus di pipiku. Ku gigit sedikitnya bibir bawahku yang kering, rambutku berantakan seperti baru saja di amuk badai yang hebat. Aku tidak mampu membayangkan bagaimana laki-laki itu memasukan salah satu jemari gadis itu ke dalam lubang cincin yang ia beli. Aku menggerakkan kepalaku perlahan, pandanganku kualihkan ke arah sebuah boneka yang sekarang terbaring nyaman di atas kasur yang sedang kududuki. Tangan kananku dengan lembut meraih benda lucu itu dan menatapnya. Aku hanya dapat mengukir sebuah senyuman yang hangat.

Beberapa hari yang lalu, Seunghyun akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan. Seorang Se Jin, dengan sebuah cincin yang melekat manis di jarinya. Ya, Se Jin menerima lamaran Seunghyun. Ketika pulang, laki-laki itu berteriak bahagia dan memelukku, lalu menyatakan bahwa akhirnya dia akan menikah dengan Han Se Jin. Aku menyambutnya hanya dengan mengembangkan sudut-sudut bibirku. Berbeda dengan Shin Ae dan suaminya yang datang esok hari, dia menyambut kebahagiaan itu dengan membawakan banyak hadiah dan makanan. Dia mengundang Han Se Jin juga untuk merayakannya di rumah Seunghyun. Aku ikut, tapi aku tidak begitu menikmatinya, aku kehilangan nafsu makanku.

————————————————-

Aku memantapkan langkahku untuk keluar dari ruangan ini, ruangan yang pengap, tempat aku menghabiskan waktuku untuk menggeliat dan terisak-isak. Aku menyambar jaket yang tergantung di balik pintu dan keluar dengan langkah setengah berlari menuruni anak tangga. Ketika sudah mencapai pangkalnya, aku melambatkan langkahku. Aku menatap ke sekeliling ruangan di hadapanku, bersih, hening, dan nyaman seperti biasanya. Aku menggerakan kaki ku lagi menuju sebuah pintu. Pintu itu kubuka dan kulihat betapa banyaknya orang berkerumun di dalamnya. Seorang perempuan dengan rambut diikat tampak sedang sibuk melayani pembeli.

“Sudah baikan?” tanyanya ketika melihatku. Aku mengangguk pelan tanpa memandangnya. “Kalau begitu tunggulah di sana, kurasa kau masih merasa tidak enak badan,” kata perempuan itu sambil menunjuk sebuah kursi di dekat pintu. Bukan itu tujuanku sebenarnya, aku hanya keluar untuk pergi ke sebuah tempat, tapi anehnya badanku dengan patuh mengantarkanku ke kursi itu dan duduk tenang.

Akhirnya serangkaian kesibukan Shin Ae selesai, toko mulai sepi pengunjung, sedangkan wajahku masih belum kembali cerah. Shin Ae menarik sebuah kursi ke dekatku, dia mengambil sebuah majalah yang tadinya terletak di atas meja kasir. Dia duduk sambil menyilangkan kakinya dan menghela nafas lega karena pekerjaannya sudah selesai. Namun baru beberapa detik ia membuka-buka majalahnya, dia menutupnya kembali dan menaruhnya di atas meja karena bosan.

“Ahhhh…, akhirnya pekerjaanku selesai juga,” ujarnya sambil memukul-mukul pundaknya dengan kepalan tangannya. “Byul ah? apa kau tidak apa-apa? kenapa kau menatapku begitu?” tanyanya sambil melambai-lambaikan tangannya di hadapanku.
“Hah?” aku terkejut ketika mendengar pertanyaannya. “Ah..ani..aniyooo~, aku tidak apa-apa,”
“Tapi kenapa kau seperti sedang memikirkan sesuatu sejak pagi tadi? lihat tuh…wajahmu pucat? kau sakit? ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya lagi, kali ini dengan raut wajah khawatir. Aku menggeleng. “Hmmmhh…., baiklah, aku tidak akan bertanya lagi, kalau nanti kamu merasa tidak enak lagi, bilang saja padaku,”
“Ne, gamsahamnida,” kataku sambil menundukkan sedikit kepalaku.
“Akhir-akhir ini, oppa selalu pergi bersama dengan Se Jin onnie lebih sering, padahal dulu ketika aku dan Ki Bum mau menyiapkan pernikahan, kami tidak sesibuk ini, cih… oppa terlalu berlebihan, ahh… atau mungkin memang dianya saja yang ingin menghabiskan banyak waktu dengan Se Jin, iya kan Byul ah?”
“Ne,” jawabku singkat. Shin Ae tertawa kecil sambil sesekali menerawang. Tiba-tiba saja pintu art shop terbuka, Seunghyun dan Se Jin datang sambil membawa banyak sekali bungkusan.

“Waaaaa, oppa! apa yang kau bawa itu hah?”
“Hahahaha, banyak! nanti kita akan buka di dalam,” Seunghyun langsung membuka pintu tengah dan masuk bersama Se Jin, sedangkan Shin Ae mengekori mereka karena penasaran.

“Omooooo!!! ya! oppa! banyak sekali yang kau beli, memangnya semua makanan ini akan habis?”
“Haishhh~ ya tentu saja, kan ada kau yang bisa menghabiskan semuanya, hahahaha” ledek Seunghyun pada Shin Ae.
“Enak saja kau oppa, aku tidak serakus itu ya!”
“Hahahahaha, sudahh…sudah, makanan ini untuk kita makan nanti malam, kita akan mengadakan pesta, kau mau ikut kan?” rayu Se Jin pada Shin Ae.
“Tentu saja onnie, nanti aku akan menghubungi Ki Bum dan menyuruhnya kemari, hahahaha……, Ah! kalau yang satu ini apa?” Sebuah kotak yang berukuran sekitar 40 X 20 cm berwarna baby blue menarik perhatiannya.
“Ohh~ itu, em… ya! Byul ah! kemari…,” panggil Seunghyun.
“Ne?”
“Sini..sini, ada sesuatu untukmu,” katanya sambil tersenyum penuh arti. Aku berjalan ke arahnya, dan Seunghyun mengambil kotak yang tadi di lihat Shin Ae kemudian menyerahkannya padaku.
“Ini, bukalah,” Aku langsung menerima kotak itu lalu membukanya. Sebuah gaun dengan corak warna yang sama dengan kotaknya terlipat rapi di dalam.
“Bagaimana? bagus kan?” tanya Seunghyun.
“Tadi kami membelinya untukmu, aku pikir kau akan tampak cantik ketika mengenakannya di acara pernikahan kami besok,”
“Bagus…bagus sekali, aku menyukainya,” jawabku dengan nada sedikit tercekat.
“Nah, benarkan apa yang kubilang? dia akan menyukainya, tidak semua perempuan pasti tahu dengan gaun yang di sukai oleh perempuan lain,”
“Ne…ne, aku tahu kau sudah lama tinggal dengannya dan mengerti soal kesukaannya, jangan meledekku seperti itu ah!”
“Haha…bercanda…” Kata Seunghyun sambil mengelus-elus kepala Se Jin.
“Aihhhhhh~ aku tahu kalian akan menikah besok, jangan membuatku iri seperti itu donk,”
“Iri? kau iri? bukankah kau lebih sering melakukannya dengan suamimu hah?? hahahaha…”
“Wahh…jadi seharusnya yang iri adalah kami berdua, kkk” timpal Se Jin.
“Ya! oppa! jangan membuatku malu ah,”

————————————————-

Malam ini pesta yang diadakan Seunghyun dan Se Jin berlangsung meriah. Kesedihan dan kepahitanku sedikit tertutupi ketika Kim Ki Bum, suami Shin Ae datang dan menghambur, lalu membuat lelucon-lelucon yang membuat kami tertawa. Aku berusaha menikmatinya sambil terus melihat kelucuan pasangan Shin Ae dan Kim Ki Bum. Mereka sangat mesra, serasi, dan….menghibur. Hahaha…mungkin akan menyenangkan kalau yang ada di posisi itu adalah aku dan Seunghyun. Haha…sungguh sebuah hal yang tidak mungkin terjadi. Memalukan kalau aku memikirkannya, sedangkan di belakangku…, Seunghyun dan Se Jin tampak menikmati suasana berdua. Aku menoleh ke belakang dan yang tampak hanyalah sebuah kegelapan. Ini adalah hari terakhirku di sini, aku harus benar-benar menikmatinya! aku harus menghilangkan perasaan sedihku, aku harus berusaha terlihat ceria di depan mereka semua, Karena ini adalah…. benar-benar hari terakhirku.

————————————————-

Aku sudah mengenakan gaun yang kemarin Seunghyun berikan padaku, aku juga sudah menyiapkan sebuah kado untuk pernikahannya. Aku berjalan keluar kamar dan menemui Shin Ae juga Ki Bum yang sudah menungguku dari tadi. Seunghyun sudah duluan pergi ke tempat acara di adakan, dan sekarang aku juga akan pergi ke sana menghadiri pernikahannya dengan menumpang mobil Ki Bum.

“Omoonaaa~ Byul ah, kau cantik sekali,”
“Haha, gomawoo~,” kataku sambil terus menuruni tangga. Kemudian mereka berdua menggiringku ke tempat mobil mereka di parkir. Hari ini art shop ini di tutup untuk sementara, karena pemiliknya akan mengadakan pernikahan.

Selama perjalanan, aku hanya tersenyum ketika melihat kado yang ku genggam, aku sudah menyiapkannya sejak lama untuk kado pernikahannya, aku berharap kado ini akan menjadi kado yang paling indah dan berkesan untuknya. Aku merengkuh benda itu kemudian mendekapnya.

————————————————-

Kami sudah sampai di tempat pernikahan Seunghyun dan Se Jin di adakan. Tempatnya terbuka dan di adakan di sebuah taman yang sudah di dekorasi secantik mungkin untuk menyambut pernikahan mereka. Beberapa tanaman di bentuk dan di ukir seunik mungkin, sedangkan karena tema pernikahan ini adalah putih, semua dekorasi peralatannya juga ikut berwarna putih. Sebagian tamu dengan gaun-gaun dan tuxedo mewah mereka sudah datang dan membuat acara yang belum di mulai ini cukup ramai. Beberapa di antaranya adalah teman Seunghyun yang pernah datang ke rumahnya dan berkenalan denganku, tapi karena aku lebih sering mengurung diriku di kamar saat mereka datang, jadinya aku tidak begitu akrab dengan mereka. Shin Ae yang bertemu dengan teman dekatnya langsung berpelukan hangat, mereka semua tampak bahagia hari ini. Aku mendatangi Seunghyun yang sedang berdiri sendirian di dekat pintu masuk.

“Annyeong,” sapaku.
“Ah… annyeong Byul ah,” jawabnya sambil menyunggingkan senyuman.
“Apa kau gugup?”
“Ya… begitulah,” jawabnya sambil menggaruk-garukkan kepala.
“Haha…, emm… ngomong-ngomong, ini…., aku punya sesuatu untukmu,” aku memberikan sebuah kotak berukuran sedang yang sudah di bungkus kertas kado kepadanya.
“Apa ini?”
“Rahasia, kau harus membukanya setelah acaramu selesai, arasso?”
“Hmmhh~ baiklah, gomawoyo..,” Seunghyun langsung mengacak-ngacak bagian atas rambutku sambil tertawa kecil. Aku akan mengingat hal ini.
“Baiklah, sudah dulu ya, aku mau pergi ke tempat Shin Ae,”
“Ne,” jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.

Aku berhasil menipunya, tidak mungkin sekarang ini aku dengan nyamannya melenggang ke tempat Shin Ae, aku akan pergi ke suatu tempat yang lebih jauh. Hadiah yang baru saja kuberikan adalah hadiah dan juga kenangan terakhirku padanya. sebuah surat yang ku tulis khusus untuknya, sebuah pelampiasan perasaanku yang terpendam, kugulung dan kumasukkan dalam sebuah mulut gelas tembikar yang di penuhi oleh ukiran-ukiran pemberian Seunghyun padaku karena aku sangat menyui karyanya.

Aku sekarang sudah berada tepat di luar area acara pernikahan yang sebentar lagi akan berlangsung itu. Aku menatap tempat itu lekat-lekat sebelum meninggalkannya, berusaha merekam adegan demi adegan dalam otakku. Lalu aku bergerak menjauhi tempat itu, melesat menuju sebuah tempat yang akan mengakhiri segalanya.. mengakhiri perjalanan pendekku di bumi ini.

————————————————-

Aku berdiri di pinggir tebing yang sangat curam. Perlahan aku menurunkan tubuhku untuk duduk. Aku melingkarkan kedua tanganku di kaki-kaki ku sambil memejamkan mata, menikmati suara deburan ombak yang menampar hamparan karang-karang di dasar tebing, menikmati hempasan-hempasan air yang di timbulkannya, menikmati angin yang berhembus menerpa wajahku.

Dengan lambat aku membuka kelopak mataku, kupandang bentangan laut yang luas dan kebiruan, sebuah kedamaian datang memelukku. Aku berdiri lagi, melepaskan sepasang sepatu hak yang membatasi ruang gerak kakiku. Rasa gentar sedikit menyelimuti pikiranku, namun aku sudah menguatkan hatiku untuk melakukan semua ini. Aku yakin ini adalah yang terbaik bagi diriku, dengan begitu aku tidak akan ada lagi di dunia ini, aku tidak akan tinggal di dalam tubuh ini lagi, aku tidak akan tinggal di dalam tubuh boneka itu, aku tidak akan pernah lagi merasakan sesuatu bernama cinta, aku tidak akan merasakan kepedihan sebagai efek yang ditimbulkannya, dan dengan begini juga aku tidak akan lagi mengenal seorang Song Seunghyun.

“Gamsahamnida….. Seunghyun ah……,” kata-kata terakhir itu terucap di bibirku. Dengan sebuah gerakan pelan, aku menjatuhkan diriku dari ke dalam rongga luas lautan.

————————————————

Annyeong Seunghyun ah~
Apa kabar? akhir-akhir ini kita sudah jarang mengobrol, apalagi sejak Han Se Jin hadir dalam kehidupanmu.
Aku senang melihat kalian berdua,
serasi sekali…
sampai-sampai kalian membuatku iri…

Di hari bahagiamu ini ada satu hal yang ingin kuakui padamu…..
Aku tidak pernah tahu sebelumnya, apakah kau menyadarinya apa tidak, tapi aku berpikir mungkin kau tidak pernah menyadarinya……

Seunghyun ah~,
Aku ingat ketika pertama kali kita bertemu, saat itu kau menemukanku tertidur di depan tokomu. Saat itu kondisiku berantakan, dan kau menolongku, membawaku masuk, dan membiarkanku untuk tinggal di sana. Dalam masa-masa itu, kau banyak sekali membantuku, kau banyak mengajariku berbagai hal yang tidak pernah kuketahui sebelumnya, aku sangat berterima kasih atas hal itu…,
aku menikmati saat-saat kita berdua dulu….,
saat itu kita benar-benar seperti layaknya sepasang kekasih yang tinggal bersama….

Aku menyukaimu Seunghyun ah~

selama ini…., apa kau benar-benar tidak pernah merasakan perasaanku itu?
yahh…., aku tahu….
mungkin saat itu kau lebih memikirkan Han Se Jin dan menunggunya kembali dari pada memikirkan diriku, mungkin karena itulah kau tidak pernah peka terhadap perasaanku.

Mungkin suatu kesalahan besar aku mengungkapkannya sekarang, aku terlambat mengatakannya, aku terlalu pengecut untuk memberitahukannya padamu saat itu, hingga akhirnya aku hanya mendapatkan kepahitan. Aku memendam perasaan ini, namun tidak ada satupun kekuatan dalam diriku yang mampu menunjukkannya banyak kepadamu, aku minta maaf atas semua pengakuanku ini, aku berharap kau tidak merasa terganggu…,
aku berharap kau dapat menyimpannya sebaik mungkin dalam hatimu…

Aku sangat berterima kasih atas segala yang pernah kau berikan padaku, aku tidak mungkin melupakannya, tapi itu terlalu berat untuk aku ingat, bukankah lebih baik aku menghilangkannya? iya kan?

Mungkin setelah ini kau tidak akan pernah melihatku lagi, aku akan pergi jauh…..
meninggalkan semuanya…..

Sekali lagi gamsahamnida…..

Saranghaeyo… Seunghyun ah~…

Laki-laki itu meremas surat tersebut. Dengan penuh kekuatan, ia menghempaskannya ke tanah yang ia pijak. Sebuah acara pernikahan yang sudah ia rencanakan sebaik mungkin ia tinggalkan begitu saja. Wajahnya sudah merah karena perpaduan marah, rasa kecewa, dan sedih yang menyelubungi dirinya, pipinya yang dibasahi oleh lelehan air mata ia usap beberapa kali. Semua tamu yang ada di undangan terkejut dengan apa yang dilakukan lelaki itu, terutama seorang gadis yang sebentar lagi akan dinyatakan sebagai istrinya. Dengan sekali hentakan, ia melepas jasnya dan membuangnya, kemudian pergi mencari jejak gadis yang memberikannya kado sebuah surat yang baru saja ia baca.

————————————————-

“Appa….., kenapa nama tokonya di ganti menjadi Byul? bukankah yang dulu lebih bagus?”
“Hahahahaha, menurut appa, nama Byul lebih bagus,”
“Ahhhhh…tapi kenapa harus Byul… nama itu kan….,” anak itu melirik ke arah ibunya. “Itu kan nama eomma…..,”
“Memang ada masalah kalau appa mengganti nama tokonya dengan nama ibumu? appa suka dengan nama itu,” kata pria itu sambil menggendong laki-laki kecilnya.
“Ya! kenapa menyebut-nyebut namaku hah?” seru wanita yang tiba-tiba muncul.
“Waaaa…. eomma mengamuk!” jerit anak itu sambil bersembunyi di belakang appanya.
“Aigooo…. anak ini, hei Song Yoo Gun! sini, eommamu ini akan memberikan pelajaran padamu,”
“Uwaaa~ appa, eomma serammm…”
“Hahahahaha, kalian ini, sudahhlah….,”
“Jagiyaa…lihat itu, pendekar kecilmu itu nakal sekali,”
“Hahahaha, tapi lucu kan?” Pria itu langsung menarik istrinya  ke dalam pelukannya, sedangkan wanita itu hanya mengembungkan pipinya.
“Seunghyun ah…,”
“Ne?”
“Saranghae…,” wanita itu memberikan senyum hangat pada suaminya. Pria itu tersipu ketika melihatnya, dan tanpa di duga dia mengecup bibir istrinya dengan lembut, sedangkan anak kecil di belakangnya hanya mampu menutup matanya dengan kedua tangannya sambil mengintip sedikit dari sela-sela jarinya.

————————————————-

The End

Huwaaaaaaaaa~ akhirnya FF satu ini tamat juga!
Penuh perjuangan waktu ngelanjutinnya karena otak blank sama sekali, sedangkan semangat udah menggebu-gebu buat ngelanjutin. Gw bikin ni FF sampe part ini aja karena gak mampu bikin part banyak-banyak, hehe ^^

Mian sebanyak-banyaknya buat reader karena banyaknya kekurangan di dalam FF ini, maklum sih~ masih pemula, tapi semoga kalian cukup puas dengan endingnya. Untuk bagian Byul kenapa bisa ada lagi? itu gw biarkan aja kalian mengembangkan imajinasi kalian sendiri, khukhukhu *d kemplang reader.

Trus juga makasih sebanyak-banyaknya buat kalian yang udah ngikutin FF ini sampai akhir, bener-bener sebuah penghargaan buat gw karena kalian bertahan buat ngebaca ni FF budug ampe akhir *lebay kumat*

Sekali lagi gomawooo… gamsahamnidaaa ^^

Seperti biasaaa, komennn yoo XDD

25
Dec
09

Forever Love (chap 4)

Title : Forever Love (chap 4)
Author : Chafani
Rating : PG +13
Genre : Romance
Main Casts : Byul, Song Seunghyun (FT island)
Other Cast : Kim Shin Ae, Kim Ki Bum, Han Se Jin
Theme Song : Intro Eve No Sora, Ima Ai Ni Ikimasu by Kimbum, Younha – Miweohada, For Catharina, Broke up today, BEG It’ll do well, Tiffany ft K Will – A Girl Meets Love, Sunny ft Taeyeon – It’s Love.

Aku mulai ragu dengan hidupku, aku mulai tidak yakin dengan apa yang kujalani sekarang. Aku mulai goyah dan tidak percaya bisa melanjutkan perjalanan hidupku sebagai manusia bersama lelaki yang kukasihi selama ini. Aku memang tidak ditakdirkan seperti ini, aku memang seharusnya hanya menjadi sebuah boneka, aku memang seharusnya menjalani hidupku sebagai sebuah boneka. Jiwaku, perasaanku, semuanya, tidak sepantasnya berada di sini. Aku harus kembali, aku harus kembali, kembali di mana saat itu aku hanyalah sesuatu yang diam, yang tidak bergeming, yang hanya tersenyum, yang hanya duduk, yang hanya menatap ke depan, yang tidak bisa melakukan apapun kecuali berbicara kepada diriku sendiri. Bagaimana caranya? aku ingin kembali, aku tidak betah hidup seperti ini, ini bukan jalanku, ini bukan takdirku, ini bukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kumohon……… aku ingin kembali……
————————————————-

Pantai ini, sebuah pantai yang terletak di daerah yang berdekatan dengan tempat Seunghyun tinggal, merupakan tempat yang paling nyaman yang pernah kutemui. Suasananya sepi, bersih, sejuk, dan pemandangannya indah. Aku menikmati detik demi detikku untuk menenangkan diri. Pasir yang empuk membuatku semakin mengantuk dan ingin tertidur. Angin sepoi-sepoi yang sedari tadi menerpa wajahku membuat pipiku menjadi dingin. Aku terduduk sambil melipat tanganku di atas lutut, kemudian memejamkan mataku sambil menikmati hembusan angin dan deru ombak yang menghempaskan dirinya di pasir. Sesekali terdengar suara burung-burung camar yang memekik di udara. Aku ingat ketika pertama kali Seunghyun mengajakku kemari, ia bilang ketika kau sedang diterpa masalah, ketika kau sedang merasa hampa, ketika kau sedang merasa buruk, kau hanya perlu datang kemari, duduk, diam, memejamkan mata, dan kau akan menemukan sebuah ketenangan. Dia benar, apa yang sekarang kutemukan adalah sebuah kedamaian, ketentraman, kenikmatan, dan kenyamanan. Namun aku masih belum bisa melupakan soal kejadian tadi malam, begitu terlukanya perasaanku saat ini hingga rasanya seberapapun aku berusaha memulihkannya, luka ini tidak akan sembuh. Aku menyentuh dadaku yang terasa sesak. Baru pertama kali aku merasakan hal seperti ini, aku masih tidak bisa melepaskan ingatanku dari peristiwa semalam. Peristiwa itu terus menghantuiku, terus menakuti, terus membebani pikiranku dan membuatku tidak bersemangat dalam melakukan apapun. Tidak ada yang dapat benar-benar menghiburku dan menghapuskan semua yang aku rasakan saat ini. Aku salah! aku benar-benar salah! kenapa aku harus berdoa, kenapa aku harus meminta semua hal ini terjadi padaku. Aku tidak tahu bahwa aku tidak akan sanggup menanggungnya, tapi semuanya sudah terlanjur terjadi, sekarang aku harus menghadapinya sendirian tanpa siapapun yang bisa membantuku. Rasa sakit ini, apakah aku harus menahannya hingga saat yang tidak aku ketahui?? Hidup manusia itu, seberat inikah??
————————————————-

“Byul ah…, Byul ahh….ireona!”
“Ng?” aku membuka sedikit kelopak mataku, samar-samar kulihat seseorang duduk di depanku sambil mengguncang-guncang bahuku.
“Hufh…., aku kira kau kemana, ternyata kau tertidur di sini,” aku segera terbangun dari posisi tidurku. Betapa terkejutnya aku, tanpa sadar aku tertidur di pantai ini selama sekitar dua jam sejak pagi tadi. Aku terlalu menikmati suasananya hingga aku tidak sadar bahwa aku masih punya tugas.

Aku melihat Seunghyun masih mengatur nafasnya sambil menundukkan wajahnya ke bawah. Wajahnya di penuhi peluh , kemeja yang semalam dia pakai ke acara reuni masih ia kenakan dengan lengan tergulung sampai sikunya, hanya saja sekarang lebih berantakan dan basah karena keringatnya. Sekarang matanya yang sayu menatapku dengan raut kelelahan. Dari yang kulihat, sepertinya ia baru saja mencariku ke berbagai tempat, dan akhirnya menemukanku di sini.

“Byul ah, tadi pagi aku kaget ketika kau tidak ada di manapun, kau pergi tanpa meninggalkan pesan. Aku mencarimu ke berbagai tempat tetapi kau tidak ada juga. Ahhh~ tadi aku takut sekali, ternyata saat akhirnya aku lelah mencarimu dan pergi kemari, aku malah menemukanmu tidur di sini,” Seunghyun mengelus kepalaku, aku hanya tersenyum tipis menatapnya. Entah kenapa, sekarang rasanya terasa berat untuk menatap wajahnya dan tersenyum padanya. Tiba-tiba aku menangkap wajahnya menyiratkan rasa heran ketika melihat wajahku, aku menjadi salah tingkah. “Byul ah, apa kau habis menangis? kenapa matamu bengkak?” Aku terkejut dan meraba-raba wajahku, aku berusaha mengelak, namun dia terus mendesakku untuk mengakui apa yang membuatku menangis. Aku tidak bisa menjawab apa-apa dan hanya menunduk sambil berusaha membendung air mataku yang mulai keluar lagi. Tiba-tiba saja tanpa kusangka Seunghyun mendekapku, seketika itu pula aku melepaskan tangisanku untuk kesekian kalinya, sakitnya perasaanku memang dapat kusembunyikan, namun ekspresi atas rasa sakitku tidak dapat kututupi. Aku terisak-isak di dalam dekapannya, wajahku memanas, aku hanya bisa menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku tidak tahu kekuatan apa yang dia gunakan sampai akhirnya ia dapat membuatku lebih baik. Air mataku mulai berhenti mengalir, dan perlahan ia mulai melepaskan dekapannya kemudian menatapku. Aku merasa malu dengan diriku sendiri, kenapa aku harus menangis di depannya, kenapa aku tidak bisa menahannya sedikit lagi sampai akhirnya aku bisa memisahkan diri dengannya dan menangis sendirian. Babo!

“Byul ah,” panggil Seunghyun sambil memegang kedua bahuku. “Mianhe kalau aku punya salah terhadapmu,” aku menggeleng dan berusaha menjawab “ini bukan salahmu” tapi tidak terucap satu katapun. “Memangnya apa sih yang membuatmu begini?” sekali lagi aku menggeleng, tampaknya Seunghyun sudah menyerah dengan pertanyaannya. Dia berdiri di hadapanku dan mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. “Ayo! berdirilah, kita harus cepat pulang, sebentar lagi aku harus membuka art shopku, kita sudah terlambat satu jam,” ujar Seunghyun sambil melihat jam tangannya. Aku berdiri menuruti perintahnya lalu menyapu pasir-pasir yang menempel di bagian belakang bajuku.

Kami mulai berjalan menjauhi pantai, matahari mulai beranjak berusaha menggapai puncak langit. Kulihat jalanan semakin ramai, dipenuhi oleh orang-orang yang memulai kegiatan yang sehari-hari mereka kerjakan. Penampilan kami berdua yang cukup berantakan menarik perhatian beberapa orang, namun aku tidak peduli, begitu juga dengan Seunghyun. Seunghyun terlihat menguap beberapa kali, wajahnya juga terlihat sangat lelah, aku menduga, apakah dia tidak tidur semalaman? Kulirik tangannya yang kosong, berikutnya tanganku. Ada keinginan untuk menggenggamnya, namun niat itu kuurungkan karena lagi-lagi aku merasa tidak memiliki keberanian. Pengecut! pada akhirnya, apa yang kuinginkan selama ini hanya sebatas mimpi, keberanian saja aku tidak punya. Karena tidak dapat melakukan apapun, aku hanya berjalan sambil menatap bangunan-bangunan yang kulalui. Beberapa saat kemudian, kami melihat art shop sudah tidak jauh lagi, kami hanya tinggal melangkah beberapa meter lagi untuk sampai ke sana.

Seunghyun membuka art shopnya kemudian menguap dengan keras. Dia buru-buru pergi ke lantai atas untuk mengambil pakaiannya, dan pergi mandi. Aku duduk di sofa, perasaanku memang jauh lebih baik dari tadi, namun masih ada sedikit perasaan tidak enak yang menyergapku.

“Ya!” panggil Seunghyun tiba-tiba yang membuatku terkesiap. “Cepat mandi, aku menunggumu di depan,” aku hanya mengangguk lemah.
————————————————-

“Ini, kubawakan kau coklat hangat,” Seunghyun menyerahkan secangkir coklat di hadapanku, dia mengambil posisi duduk di sampingku. Aku hanya mengaduk coklatku dengan malas. Seunghyun mangambil remote tv dan mengganti chanelnya beberapa kali namun dia tidak menemukan satupun yang dapat menghiburnya hingga akhirnya ia mematikan tv. Malam ini sangat dingin, aku menyelimuti diriku dengan selimut tebal yang ku ambil dari kamarnya. Aku duduk sambil menikmati coklat hangat buatannya, sesekali aku memejamkan mata untuk menikmati aromanya.

“Em…., aku…ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu,” aku menoleh padanya sambil menunggu apa yang akan dikatakannya.
“Kau tahu kan kemarin aku pergi ke acara reuni?” aku mengangguk, tentu saja aku tahu. Kenapa harus ditanyakan sekali lagi?
“Aku bertemu dengan seorang teman…, dia itu dulu adalah orang yang sangat kusayangi. Kemarin kami bertemu setelah sekian lama kami tidak berjumpa. Aku sangat rindu padanya…, aku menanyakan kabarnya, dia bilang dia baik-baik saja, tapi semuanya tergambar di wajahnya, bahwa dia tidak baik. Aku menanyakannya sekali lagi, apakah itu benar? akhirnya dia mengakui, dia tidak baik, dia sudah lama menantikan saat-saat ini untuk bertemu denganku, dia sangat rindu padaku, begitu juga aku.” Seunghyun menundukkan kepalanya. “Dia…, dulu adalah mantan pacarku, tapi setelah lulus SMA, kami berpisah, ia melanjutkan sekolahnya ke luar negeri. Selama itu, aku masih menantinya bahkan sampai sekarang. Tidak menyangka kami akan bertemu lagi. Kau tahu Byul ah?”
“Ng..?” responku terhadap pertanyaannya.
“Setelah kami mengobrol banyak malam itu, akhirnya kami kembali seperti dulu,” senyum Seunghyun mengembang ketika mengatakannya. Tidak untukku, sederetan kalimat tersebut seakan-akan menjadi sebuah tamparan keras bagiku. Aku hanya diam mendengar ceritanya sambil menahan sesuatu di dadaku. Sebuah pergolakan yang sangat hebat, semua perasaan buruk menyatu. Aku merasa air mataku akan keluar.
“Chukhae…, aku senang mendengarnya” ucapku memaksakan diri. Aku berusaha tersenyum setulus mungkin agar tidak terlihat berpura-pura di depannya. Setelah itu aku buru-buru mengalihkan perhatiannya.
“A… Seunghyun ah, mianhee… aku sudah sangat mengantuk, aku pergi ke atas dulu” Aku langsung beranjak menuju tangga untuk pergi ke kamar, aku tidak ingin dia melihat wajahku yang mulai memerah.
————————————————-

Han Se Jin, dia adalah seorang gadis yang sangat cantik dan modis. Siang ini dia datang ke art shop Seunghyun. Seunghyun memperkenalkan diriku padanya, dia mengenalkanku sebagai sepupunya. Aku membungkukan badanku, kemudian menatap dirinya. Sungguh sangat jauh berbeda denganku, gadis itu mudah bergaul, cantik, dandanannya keren, dan juga ramah. Aku, juga beberapa pengunjung di toko ini terpana ketika melihatnya, seakan-akan tidak akan ada yang bisa menandingi gadis itu. Dan juga, sekarang semua orang di toko ini mengenalku sebagai sepupu Seunghyun.

Sepasang kekasih yang sangat serasi, mungkin semua orang akan iri padanya, termasuk aku. Aku hanya bisa menatap keakraban mereka berdua, Seunghyun tampak lebih bahagia dari biasanya. Setelah ini mereka berencana untuk jalan berdua. Seunghyun meminta bantuan Shin Ae untuk membantuku menjaga tokonya. Shin Ae menjerit kesenangan ketika baru saja datang dan melihat Han Se Jin. Jeritan dan lompatan mereka membuat perhatian pengunjung tertuju pada mereka. Aku hanya tersenyum kecil melihat kejadian itu, lucu..tapi menyakitkan. Ya, benar, aku cemburu pada mereka. Cemburu karena Han Se Jin bisa mendapatkan Seunghyun kembali, cemburu karena Shin Ae tampak bahagia melihat kakaknya bersama dengan orang yang tepat, dan cemburu karena wajah Seunghyun yang lebih berseri-seri dari biasanya.

————————————————

Waktu sangat cepat bergulir. Hari demi hari kuhabiskan waktuku dengan siksaan batin yang kuterima. Aku hanya bisa menahannya, dan selalu menangis ketika malam tiba, di mana saat itu Seunghyun sudah tertidur pulas. Setiap pagi mataku yang bengkak selalu menarik perhatiannya, tapi kujawab saja aku tidak apa-apa, setelah itu dia tidak menanyakanku lagi. Malam ini, entah kenapa perasaanku semakin tidak nyaman.

“Lihat Byul ah, cantik bukan?” aku tersenyum melihat benda itu, berkilauan dan sangat cantik. Sebuah cincin yang sangat indah. Aku mengangguk menyetujui pendapatnya.

“Tadi siang, aku membeli cincin ini bersama dengan Shin Ae, dia memilihkannya untukku, dan aku membelinya sepasang,” ucap Seunghyun sambil menatap cincin itu sambil menerawang. “Ah..ini, lihat~,” Seunghyun mengeluarkan satunya lagi dari kotak cincinnya dan menunjukkannya padaku, sekali lagi aku tersenyum melihat benda itu. Cincin itu terbuat dari emas putih. Sepasang, namun ukurannya berbeda, sedangkan di sisi luarnya di penuhi dengan ukiran-ukiran yang indah. Seunghyun memutar-mutar cincin itu dengan jemarinya sambil sesekali mengarahkan cincin itu ke arah lampu untuk melihat kilaunya.

“Kau tahu tidak, apa tujuanku membeli cincin ini?”
“Hm…? apa?” tanyaku penasaran.
“Aku…. akan melamar Han Se Jin, besok” jawabnya sambil setengah berbisik. Ekspresi terkejutku ketika mendengarnya tidak dapat kusembunyikan, wajahku berubah menjadi sangat pucat, hanya saja Seunghyun tidak begitu memperhatikannya. Aku tersiksa, aku tertekan karena terlalu sering aku harus melihat berbagai kemesraan antara Seunghyun dan Se Jin. Tapi kali ini, kata-kata yang baru saja Seunghyun ucapkan lebih menyakitkan daripada melihat mereka berdua, kalimat yang baru saja dilontarkan olehnya seakan-akan membunuhku perlahan. Seunghyun ah? apa kau tidak tahu perasaanku selama ini? aku sudah banyak menunjukkannya padamu? bagaimana bisa kau tidak pernah menyadarinya? apa aku yang hanya terlalu bodoh selalu menunjukkannya, memikirkanmu, dan menangisimu seperti ini? sedangkan dirimu tidak pernah berpaling padaku? aku….. mungkinkah terlalu bodoh mengharapkanmu dan menunggumu? Apakah segalanya akan berakhir setelah ini? Apa yang harus kulakukan setelah ini? apa yang harus kuperbuat tanpamu Seunghyun ah? Jebal… kajima.. gajimayo…. *copyright by me*

————————————————-

16
Dec
09

It’s You (chap 3)

Fuahhh~ gara2 FF nie, aq jadi buka lappie lagi n OL, hahaha, padahal udah mau ujian, tapi gak tau napa, ide tiba2 aja dateng n rasanya gak sabar buat ngelanjutin, buat yang udah nunggu~ mianhe, ngelanjutin na lama *Bow
Lanjutan FF It’s U chap 3 nie, aq buat na rada cepet2, jdi na sori ajha ya kalo misal na ada yg ng’ganjal~ huahahaha~

Please comment n i hope u like it~
Gomawooo ^^

————————————————————————————————————————–

Sowon high school pagi hari ini seperti biasa diramaikan oleh kehebohan para murid-muridnya yang sedang berkumpul dan menggosip di berbagai sudut sekolahan. Mereka banyak sekali membahas hal-hal, seperti soal cafe terbaru, tempat nongkrong baru, dan lain-lain. Namun hari ini, kebanyakan dari mereka sedang meributkan soal kedatangan cowok yang menemui Shin Ae kemarin. Rupanya cowok itu sudah banyak menarik perhatian para murid-murid cewek di sana. Jeritan sesekali terdengar ketika mereka membicarakannya dan ada juga yang menggerutu kesal karena cemburu dengan Shin Ae yang mendapat keberuntungan bisa mengobrol dengan cowok itu.

Sesuai dugaan, ketika Shin Ae masuk ke kelas, teman-teman cewek sekelasnya langsung menoleh dan langsung mengerumuni Shin Ae. Mereka bertanya-tanya soal hubungan Shin Ae dengan cowok itu. Shin Ae langsung kebingungan menghadapinya, dan saat itu jugalah Jinki tiba-tiba datang.

“Oii, kalian berisik sekali sih! pagi-pagi dah ngegosip, mana di tengah jalan pula. Lagipula cowok yang kalian ributkan itu cuma cowok yang kebetulan menabrak Shin Ae di tengah jalan saja, dan kemarin dy hanya menyampaikan map milik Shin Ae, begitu ajha ribut, dasar cewek!” Jinki langsung memalingkan wajahnya dan melangkah menuju tempat duduk na, beberapa murid merasa kesal dengan sikap Jinki, sampai-sampai ada yang diam-diam mengepalkan tangannya dan berlaku seolah-olah mau memukul Jinki dari belakang.

“Haishh~, dasar tukang ikut campur,” gerutu salah satu cewek yang kesal kepada Jinki.

“Hahahaha, kalian tidak usah salah paham, apa yang dikatakan Jinki itu benar, pagi kemarin aq menabraknya di jalan, dan map q terjatuh, lalu tertinggal, kemarin dy datang ke sekolah ini hanya untuk menyampaikan map itu saja. Jadi kalian tidak perlu khawatir, ehehe” Shin Ae berusaha menenangkan massa, dan menyelesaikan kesalah pahaman itu.

“Hoooo, tapi kau beruntung sekali bisa bertabrakan dengan cowok itu, kau tauuuu Shin Aeeee, dy itu tampannnn sekaliiii!! kalau aq jadi kau aq juga mauuu”
“Betul Shin Ae, kau beruntung, kalau aq jadi kau, aq akan berkenalan dengannya, dan mengajaknya berjalan-jalan, lalu….oh iya, apa kau tau namanya? rumahnya di mana? apa kau sudah mengetahui sedikit soal identitasnya?”
“Ayolahh Shin Ae, beritahu kami, aq benar-benar ingin tau soal cowok itu, aq menyukainyaaa~”
“Haishhh!! apa-apaan kau?!! sudah kuputuskan kalau cowok itu milikku! kau tidak boleh merebutnya!”
“Apa?!! milikmu? gak salah? dy sudah menjadi incaran q saat aq pertama melihatnya, jadi dy milikku,”
“Tidak!! kalian tidak boleh, aq yang pertama kali melihatnya, jadi hanya aq yang bisa memilikinya, ara?!” cewek-cewek itu sekarang jadi saling memaki dan berebut mengakui kepemilikan cowok itu seakan-akan cowok itu adalah barang. Shin Ae diam-diam melarikan diri dari kericuhan tersebut, dy mengambil celah kemudian segera pergi ke tempat duduknya di samping Jinki.

“Fuahhh! Jinjja! bodoh sekali, hanya karena cowok itu saja mereka bertengkar, padahal belum tentu cowok itu akan memilih mereka, ckckck~” Shin Ae menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap ke arah kumpulan cewek-cewek yang tadi menghadangnya.
“Hm…kenapa? kau cemburu?” celetuk Jinki dengan nada dingin. Shin Ae langsung melihat ke arah Jinki yang berwajah tenang sambil membaca buku.
“A…aniyoo~, aq hanya heran saja pada mereka, kenapa hal sekecil itu saja dipeributkan? bikin pusing!”
“Kalau begitu kau tidak usah mengurusi mereka, mereka khan biasa seperti itu, sudah tau bikin pusing, masih diurusin”
“A…ya! Jinki ah, kau kenapa sih? pagi-pagi begini nada bicara mu dingin sekali kepadaku, apa kau ada masalah denganku? apa kau sedang kesal?”
“Ah~ Park Songsaenim sudah datang,” Shin Ae mengalihkan pandangannya ke depan, memang benar Park songsaenim sudah datang, tapi Shin Ae merasakan ada hal yang aneh dengan Jinki.

Pelajaran Park songsaenim sangat membosankan, apalagi cara mengajarnya, seakan-akan setiap kata-kata yang dy ucapkan adalah mantra tidur bagi para murid di kelas ini. Shin Ae saja selalu mengantuk ketika mendengar Park Songsaenim menyampaikan materinya. Biasanya, di saat-saat yang membosankan begini, Shin Ae akan mencoba permainan-permainan seru di kertas dengan Jinki, tapi Shin Ae semakin heran ketika Jinki memperhatikan pelajaran. Padahal biasanya Jinki mengeluh dan merasa tidak betah.

“Jinki ah,” Shin Ae dengan suara setengah berbisik memanggil Jinki sambil menyenggol-nyenggolkan siku na ke tangan Jinki. Jinki tidak menjawab.
“Jinki ah,” Shin Ae sekali lagi memanggil Jinki, tapi tidak ada jawaban. Shin Ae kesal, dan akhirnya menginjak kaki Jinki dengan sangat keras.
“Arghhh!!!!” suara Jinki menarik perhatian seluruh kelas, mereka semua langsung menoleh ke Jinki. Park songsaenim pun ikut terkejut, malahan saking terkejutnya, buku pelajaran yang ada di tangannya hampir terlempar.
“Ada apa Jinki ssi?” tanya Park songsaenim penuh selidik sambil memegangi bingkai kacamatanya.
“A…ee….s…saya tadii..” Jinki kebingungan mencari alasan. “Ahh~ tadi kaki saya saat mau bergeser tidak sengaja menatap kaki meja, karena itu saya teriak pak,” Jinki berupaya untuk berbohong sambil melirik Shin Ae yang terkekeh-kekeh di sebelahnya.
“Ohh begitu, yasudah, lain kali kau harus lebih hati-hati,” hanya begitu saja ucapan terakhir seorang Park songsaenim, orangnya tidak begitu ambil pusing soal hal-hal kecil yang terjadi, tidak seperti Jung songsaenim yang memang killer, sedikit saja ada yang mengganggunya mengajar, tidak segan-segan dy menyingkirkan sumber kegaduhan itu.

“Shin Ae aah,”
“Hmmm?” jawab Shin Ae sambil menatap ke depan dan tersenyum jahil.
“Awas kau nanti,”
“Hmppphff~, awas kenapa? aq tidak takut padamu, khukhukhu,” Jinki sudah melirik tajam ke arah Shin Ae sambil memasang tampang mengancam, sementara Shin Ae masih cekikikan.

Pelajaran geografi dari Park songsaenim dan beberapa pelajaran lainnya sudah usai. Akhirnya murid-murid dapat mengistirahatkan otaknya setelah panas dibuat berpikir ketika pelajaran. Beberapa anak segera berlarian menuju kantin, sedangkan Shin Ae dan Jinki menetap di kelas. Jinki memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam kolong, kemudian beranjak dari kursinya dan keluar dari kelas tanpa mengajak Shin Ae atau mengeluarkan sepatah katapun kepadanya. Shin Ae melongo ketika melihat sikap sahabatnya yang tidak biasa itu, kemudian segera menyusul Jinki.

“Jinki ah~ Jinki ah~” panggil Shin Ae sambil terengah-engah, namun Jinki tidak menggubrisnya. Akhirnya Shin Ae sekali lagi berteriak, “Lee Jin Ki!!” saat itu pula Jinki menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang. Shin Ae berjalan menyusul Jinki yang jaraknya hanya tinggal ditempuh beberapa langkah lagi.
“Heuhhh~ capek! kau ini kenapa sih? dari tadi q panggil, kau tidak menoleh?? *hwanasseo? soal tadi? mianhe, tadi itu aq sedang kesal karena kau tidak juga menoleh kepadaku saat aq memanggilmu ketika pelajaran tadi, aq tau aq salah karena sudah menganggu konsentrasimu belajar, tapi khan gak perlu kayak gini,” Shin Ae berusaha mengatur nafasnya karena kelelahan.

“Sudah? itu saja yang ingin kau katakan?”
“Hah?”
“Ck~ ah~ aq gak suka membuang-buang waktu!” Jinki berbalik dan pergi meninggalkan Shin Ae. Shin Ae makin kebingungan dengan tingkah Jinki hari ini. Dia pun berjalan lunglai ke kelas. Entah dy tidak tau apa yang terjadi pada Jinki, padahal ketika pulang sekolah kemarin, Jinki baik-baik saja, malahan dy menghibur Shin Ae saat dy menangis soal Key.

Sampai di bangkunya, Shin Ae mengeluarkan beberapa kertas dari tasnya dan mencoret-coretnya dengan penuh kemarahan. Rasanya dy ingin menangis tapi tidak bisa. Itulah kebiasaannya dari dulu yang tidak pernah hilang, mencoret-coret kertas untuk melampiaskan kekesalannya.

*…………*………….* Continue reading ‘It’s You (chap 3)’

16
Dec
09

It’s You (chap 2)

“Key??!!!”

Shin Ae terpanjat melihat pemandangan yang ada di depannya. Mimpi ataukah bukan? tapi ini nyata! Dy melihat sosok Key.

“Hah? Key? siapa itu?” pertanyaan itu membuat Shin Ae tersadar, bahwa tentu saja tidak akan ada dua orang Key yang hidup di dunia ini.

“Jeosong hamnida, aq salah orang, aq harus cepat-cepat ke sekolah, sebentar lagi aq terlambat, terima kasih atas bantuannya,” Shin Ae buru-buru membungkukkan badannya dan berlalu begitu saja, meninggalkan cowok yang berwajah menyerupai key itu.

Seharian ini Shin Ae tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran sekolahnya. Yang dy lakukan hanyalah melamun, melamun, dan melamun. Tidak henti-hentinya dy memikirkan cowok yang tadi pagi dy tabrak. Mengingatkannya akan Key, wajah, postur tubuh~ hampir semua yang dy lihat benar-benar sangat mirip Key.

Jinki yang sedari tadi memperhatikan Shin Ae terheran-heran dengan tingkah Shin Ae yang aneh. Padahal biasanya dia lah yang paling serius memperhatikan pelajaran guru. namun sekarang dy berwajah muram, dan matanya memandang kosong ke depan. Jinki yang tidak tahan melihat semua keganjalan itu akhirnya membuat gumpalan kertas yang dy remas2, kemudian dengan satu hentakan, tangannya melemparkan gumpalan kertas itu tepat ke kepala Shin Ae.

“Ouch!! Ya!” Shin Ae refleks langsung menoleh ke belakang, bermaksud untuk mencari orang yang baru saja melempari kepalanya. Namun, dalam waktu yang bersamaan Jung songsaenim memanggil Shin Ae.

“Shin Ae sshi~! apa yang membuatmu teriak?!”
“Haa?” Shin Ae langsung mengalihkan pandangan ke depan. Dilihatnya Jung songsaenim sudah memasang tampang murka kepadanya.
“Keluar!!”
“Mwo?”
“Saya bilang keluar!!! Palli palli! kau sudah membuat keributan dalam pelajaran q, dari pada kau membuat keributan lagi, lebih baik kau keluar! ayooo~ cepat, apa perlu kau q tendang hah?!!” Jung songsaenim semakin marah. Shin Ae merasa sangat malu, apalagi hampir satu kelas menatapnya dan beberapa murid ada yang cekikikan karenanya. Dengan segan akhirnya dy berjalan keluar.

Istirahat tiba, Jinki menghampiri Shin Ae yang berada di kantin dan sedang meminum susu melonnya. Setelah sampai di sisi Shin Ae, Jinki langsung tertawa terpingkal-pingkal.

“Hei! apa yang kau tertawakan?!” Shin Ae mulai mengomel kepada Jinki. Dan dy mulai menatap Jinki dengan sadis.

“Hahahaha, aq hanya tertawa saja mengingat kejadian tadi, seorang Shin Ae yang terkenal memperhatikan pelajaran dengan serius, tiba-tiba saja di hukum karena membuat keributan, hahahaha, aq tidak bisa berhenti tertawa jika mengingatnya,” Jinki terus tertawa sampai matanya yang sipit menghilang.

“Aishhhh! tega sekali sih kau, menertawakanku seperti itu, jelas-jelas bukan aq tadi yang salah!! orang yang melemparku dengan gumpalan kertas tadi yang seharusnya di hukum! dy yang telah membuat q kesal,” Shin Ae menggerutu kesal. Terukir jelas di raut wajahnya bahwa dy ingin membantai orang penyebab perkara tadi.

“Tapi tadi aq tidak bermaksud jahat Shin Ae aah, habis tadi aq lihat kau melamun terus, tumben-tumbennya, tidak seperti biasanya kau begitu, karena itu, agar tidak membuatmu tenggelam dalam lautan khayalanmu yang entah apa itu, aq melemparimu kertas itu, wkwkwk”

“Hooh! jadi kau dalang di balik semua ini??!! aishhh! jinjja!! kenapa kau melakukan itu padaku hah?? kau suka melihatku di hukum seperti itu?? sahabat macam apa kau ini?!! teganya kauu!! ergghh!!” Shin Ae geram setelah mengetahui bahwa yang tadi membuatnya di hukum adalah Jinki. Dy langsung mencubit lengan Jinki sekeras mungkin, kemudian memukul bahunya dengan kepalan tangannya.

“Arghhhhh!!! sakit tau!!”

“Biarin, ini semua khn salahmu,” Shin Ae menjulurkan lidah ke arah Jinki, lalu menambah laju jalannya dan meninggalkan Jinki. Jinki menggaruk-garuk kepalanya. Dy merasa bersalah dan mengejar Shin Ae, sampai akhirnya dy dapat menggapai bahu Shin Ae dari belakang dan langsung melontarkan permintaan maaf.

“Shin Ae aah, mianheee~ jeongmal mianhee!” Shin Ae membuang muka dan mengerucutkan bibirnya.

“Aigoooo~ ya! jangan begitu~ aq benar-benar tulus meminta maaf, tadi khn awalnya aq bermaksud baik. Cuma agar kau kembali berkonsentrasi dalam pelajaran. Coba bayangkan saja jika aq tidak membuyarkan lamunanmu, dan Jung songsaenim menemukanmu sedang tidak memperhatikan pelajarannya, lalu kau di suruh maju ke depan, dan menjawab soal. Saat itu kau tidak bisa, di buat malu oleh Jung Songsaenim di depan murid-murid, lalu di keluarkan~. Sudah tambah malu, dikeluarkan dan dihukum pula.”

“Ne, gomawoooo~!!” Akhirnya Shin Ae berterimakasih, walaupun nadanya masih terdengar tidak ikhlas. Jinki tersenyum puas. “Maksud q gomawo sudah membuat q dihukum!” senyum Jinki yang tadinya cerah berubah drastis menjadi masam. Shin Ae mempercepat langkahnya menuju ke kelas, sedangkan Jinki masih berusaha mengejar Shin Ae sambil lagi-lagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

——————————————– Continue reading ‘It’s You (chap 2)’

16
Dec
09

My 3rd FF : It’s You

Annyeong Chinguuu XDD
Dku kembali lagi nieh bqin FF again..n again..n again….
N Again2 lagii~ tkoh pendamping yg bkal mendampingi tkoh utama na adalah KEY si akang Kunci.
Miann yaa,, dku bqin lagi,, pdhl 2 FF sblum na ajha blum selesai
*d bantai reader* XP
Hahaha,,
Tpi maklumlah,, ide saia lagi mengucur dengan deras na n gak bsa d bendung,, jdi na gak tahan bqt bqin FF bru lagi. Cma tenang ajha,, FF sbelum na bkal eke lanjutin koq,, tpi gak skrg,, cz lagi gak ad ide bwt ngelanjutinn~
Okeehhh~,, selanjutnya silahkan baca ajha yaaa~
Seperti byasa nieh,, kritikk, komenn, cacian makian, di persilahkan~
Hope u like my new FF ^^

Cast:
Aisha as Kim Shin Ae
(Key) Kim Ki Bum SHINee belong SME
Lee Jin Ki SHINee belong SME
Sena as Choi Se Na

Terlihat dari kejauhan, seorang cowok setengah baya tengah mengendarai sebuah motor sport yang melaju dengan kecepatan kurang lebih 200 km/jam. Cewek yang berada di belakangnya yang tak lain adalah kekasih cowok itu nampak kesal dan mengomel-ngomel selama perjalanan.

“Key! apa kau sudah gila mengendarai motor secepat ini?! jangan ngebut2, aq takut Key! jebal~”

“Kau ini penakut sekali sih, aq sudah biasa seperti ini, kalau aq mengendarainya perlahan tidak akan seru. Diam dan nikmatilah~ ara?”

“Tapi………Ya!!! Keyyyy!!!!!! Awassss di depan mu!!!!!” Key terbelalak kaget melihat sebuah truk melaju dari arah yang berlawanan, supirnya terlihat mengantuk hingga dy mengendarai truknya keluar jalur. Key berusaha mengalihkan motornya ke arah lain, tidak di sangka2, di jalur sebelahnya ada mobil yang juga melaju sangat kencang sampai pada akhirnya tabrakan terjadi. Mobil itu membentur bagian depan motor key dengan sangat keras, Key dan Shin Ae terlempar sedangkan motor mereka terseret sejauh 5 meter. Truk dan mobil tadi mengerem bersamaan, sedangkan mobil-mobil lain yang berada di belakangnya juga ikut rem mendadak dan kecelakaan beruntun tidak dapat dihindari.
Suasana hening seketika. Shin Ae yang tadi terlempar dan sekarang berada dalam posisi telungkup, masih memiliki sedikit kesadaran. Dy mengadahkan wajahnya, melihat sosok di depanya sudah terkapar penuh darah, dengan helm di sisinya. Shin Ae berusaha berdiri untuk menghampiri sosok itu, tetapi badannya susah dibangkitkan.

“Keyy~…….., Key~………., Key~……..,” Shin Ae berkali-kali menyebutkan nama itu dengan nada suara lemah. Tangannya berusaha menggapai sosok tadi, namun tidak sampai dan kembali tergeletak lemas di aspal. Shin Ae sudah tidak kuat, dy merasa dirinya sebentar lagi akan mati. Samar-samar terdengar sirene ambulan dan mobil patroli memecah keheningan di malam maut itu. Beberapa saat kemudian Shin Ae dapat merasakan tubuhnya di angkut oleh beberapa petugas. Lalu, hilanglah kesadarannya.

——***——- Continue reading ‘My 3rd FF : It’s You’




December 2009
M T W T F S S
« Sep   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Annyeong Haseo

Chafani imnida yorobeun, annyeong haseo~
you can call me Cha to make it short :)
I'm just a childish person with a simple mind, simple style, simple life and cute personality *don't puke at me please* lol

Thank you for visit my blog
comment more often and make a good relationship with me, yeah, i mean, to be a friend with me, Ok? ;D

Sorry for my poor english, i hope it will not make you confuse

Welcome to my blog, welcome to my world, feel free and enjoy... :)

About Me :)

Chafani
XX Y.O
I'm a Moeslim forever

- Korean addict
- Korean addict
- Korean addict
- Artlicious
- Fashionholic *yeah.. even though i'm not a fashionble one* ;D
- Love daydreaming about many beautiful thing in this world
- A selfish person is my bad side =,=
- The one that love (Tea, Coffee, Cappucino, Milk, Moccha, Chocolate) very much <3

Stalker ::

Yahoo! Messenger ^^